Produk mamin dari Malaysia dan Thailand masih mendominasi mamin impor dari ASEAN. Sementara Vietnam mulai meningkatkan volume ekspor produk maminnya ke pasar domestik.
Hal ini disampaikan oleh Sekjen Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Franky Sibarani dalam keterangan tertulisnya, Jumat (6/5/2011)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa jenis makanan impor lainnya yaitu olahan makanan bayi dari kacang kedelai, produk-produk sereal dan filled milk atau susu lemak nabati.
"Dengan rencana penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun 2015, dikhawatirkan produk mamin asal ASEAN akan terus meningkat. Karena pemerintah negara lain terus berbenah dan secara aktif meningkatkan daya saing industrinya," katanya.
Sementara itu, lanjut Franky, industri mamin dalam negeri masih menghadapi hambatan-hambatan klasik yang belum ada sikap pemerintah yang jelas. Misalnya bunga kredit di Indonesia masih di atas 13% sementara rata-rata negara ASEAN sudah 1 digit.
"Kebijakan pajak Dan tarif yang masih belum berpihak kepada industri dalam negeri, seperti bea masuk bahan baku masih lebih tinggi dari bahan jadi. Saat ini bahan baku pagan dan kemasan plastik mengalami kenaikan harga karena kondisi global sehingga diperlukan kebijakan yang kondusif untuk bahan baku," katanya.
Selain itu, pembatasan impor gula rafinasi sebagai bahan baku penting industri mamin. Selama 3 tahun terakhir industri mamin tersandera dengan kebijakan pembatasan impor gula. Sehingga industri mamin dalam negeri harus menggunakan gula rafinasi yang lebih mahal dibandingkan dengan gula rafinasi di negara ASEAN lain.
"Kebijakan energi yang belum menyentuh pada urgensi industri mamin. Khususnya kebutuhan gas. Ada 24 pabrik yang masih kekurangan gas Dan beberapa lainnya yang siap berinvestasi dengan menggunakan gas tetapi masih menunggu kebijakan pemerintah yang mengalokasikan gas lebih besar ke industri dalam negeri," ujarnya.
Β
Ia juga menggarisbawahi, masalah infrastruktur yang sangat mengganggu distribusi bahan baku dan barang jadi. Hal ini berakibat mahalnya ongkos kirim, keterlambatan di pelabuhan, pungutan-pungutan di daerah baik resmi maupun tidak resmi.
"Untuk itu jangka pendek perlu segera dilakukan pemberlakuan wajib label bahasa Indonesia yang menyatu dengan kemasan, peningkatan SNI untuk melindungi industri dalam negeri dan pasar dalam negri, peningkatan pengawasan di pabean dan di pelabuhan tikus di seluruh Indonesia," serunya.
Gapmmi mencatat realisasi impor makanan dan minuman (mamin) selama triwulan I-2011 mencapai US$ 44,88 juta atau meningkat 5,98% dibandingkan pada periode yang sama tahun 2010 yang mencapai US$ 42,35 juta.
(hen/ang)











































