Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan industri fesyen negara Thailand sudah empat langkah lebih maju dari Indonesia. Padahal sekolah mode di Indonesia lebih banyak dari negara-negara ASEAN lain.
"Thailand berani saya katakan sudah 4 langkah di depan kita," kata Ade dalam acara breakfast meeting di kantor kementrian Perindustrian Rabu (11/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang bisa melakukan inovasi dalam jumlah kecil adalah industri kecil karena mereka tidak mementingkan efisiensi," imbuhnya.
Menurut Ade, Indonesia harus memiliki produk fesyen yang kuat agar dapat menguasai pasar. Namun, produk-produk Indonesia harus dipatenkan agar tidak direbut oleh orang lain atau negara lain.
"Tanpa branding yang kuat, pengusaha yang kita didik tidak akan menguasai pasar. Kita juga harus sadar hukum, harus mematenkannya," tegas Ade.
Dikatakannya industri fesyen dan dunia fesyen bagaikan ikan dan air. Kedua sektor tersebut seharusnya berjalan berdampingan.
Β
"Ibarat ikan dengan air, fesyen-nya di mana, industrinya di mana, jalan sendiri-sendiri," katanya.
Menurut Ade, Indonesia merupakan Tempat yang banyak menyediakan sumber daya, baik manusia dan alam, untuk mengembangkan industri fesyen dalam negeri. Namun, Indonesia tidak mampu untuk melakukannya.
"Indonesia boleh dikatakan terlengkap tapi tidak bisa menunjukkan karena ikan dan airnya nggak sama," tuturnya
Misalnya beberapa kasus, banyak perancang busana di Tanah Air sulit mendapatkan bahan baku tekstil dari industri tekstil di dalam negeri. Pelaku industri enggan melayani permintaan para perancang busana karena membeli dalam jumlah kecil sehingga tak masuk skala ekonomis. Akhirnya para perancang busana ini lebih memilih mengimpor dari luar negeri.
(ade/hen)











































