Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso menyatakan pasokan beras di Gudang Bulog masih dalam keadaan normal, yaitu sekitar 1,7 juta ton.
"Persedian masih normal sekitar 1,7 juta ton," ujarnya ketika dihubungi detikFinance, Minggu (29/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga itu kan ditentukan supply dan demand, kalau supply banyak maka harga murah, tapi kalau sedikit maka harganya mahal. Kalau Bulog hanya memenuhi kurang dari 10 persen, selebihnya beras ada di tangan-tangan pedagang," tandasnya.
Sebelumnya, Kepala BPS Rusman Heriawan menyatakan harga beras mulai menunjukkan tren kenaikan. Begitu juga dengan gula yang memberikan tekanan terhadap inflasi.
"Sampai minggu terakhir ini beras mulai agak naik sedikit tapi tidak signifikan, itu beras dan gula, itu untuk bahan pokok, kalau yang lain masih konsisten turun terus. Bulan Mei akan ada sumbangan inflasi dari beras dan gula pasir," ujar Rusman saat ditemui di JCC, Jumat lalu.
Kenaikan harga Pertamax dan harga emas perhiasan juga memberikan sumbangan inflasi, tetapi tidak signfikan mengingat porsi kedua komoditas tersebut yang kecil dalam perhitungan inflasi.
"Yang perlu kita lihat mungkin ada sedikit dari Pertamax memang sudah ada naik kan. Tapi karena bobotnya kecil sekali apalagi sekarang migrasi lagi kan jadi gak terlalu keras juga di dalam perhitungan inflasi kita, kemudian perhiasan juga kurang termasuk tapi masih cukup tinggi," ujarnya.
Namun, Rusman menilai potensi deflasi masih sangat besar meskipun tidak akan lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Hal tersebut ditopang harga pangan lainnya yang cenderung turun.
"Kesimpulan akhirnya, potensi deflasi masih sangat besar walaupun mungkin lebih kecil potensinya dibanding bulan lalu, tapi potensinya ada. Cabe merah saja harganya terjun bebas. Yang jelaskan kalau kemarin 0,31 persen sebelumnnya 0,32 persen kalau sekarang kan di bawah itu, tapi saya belum bisa pastiin karena belum saya hitung," pungkasnya.
(nia/dru)











































