Hal ini disampaikan oleh Ketua Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman, Samuel Rumbajan saat ditemui di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (7/6/2011).
"Itu pabrik di Ancol dan Cikampek, terutama yang di Ancol bulan lalu sekitar 12 kali mengalami gangguan listrik itu kan menambah biaya kita. Kalau itu berhenti ada biaya yang tidak bisa dipakai," keluhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam negeri makin kurang kitanya karena makin lama makin nggak kompetitif. Karena biaya-biaya naik, gas tidak pasti pasokannya. Gangguan (listrik) juga, PLN juga mau menaikkan lagi listrik," ungkapnya.
Ketika ditanyai tentang penandatangan nota kesepahaman dengan pemerintah untuk suplai gas ke pabrik-pabrik kaca dalam negeri, Samuel tidak terlalu besar-besarkan rencana itu. Samuel hanya ingin pemerintah dapat menyediakan pasokan gas untuk pabrik kaca dalam negeri.
"Ya kira-kira minggu ketiga Juni lah (pelaksanaan MoU), konsepnya sudah ada. Yang penting bukan tanda tangannya, tapi pelaksanaannya," tuturnya.
"Nggak usah pake MoU, yang penting pelaksanaan. MoU okelah, tapi yang penting bisa nggak pemerintah mamasok gas sesuai kebutuhan kita," tambahnya.
Lebih lanjut Samuel menjelaskan, untuk kuartal kedua tahun ini, produksi kaca diperkirakan mengalami penurunan karena gangguan yang terjadi dari otomotif Jepang pasca bencana tsunami. Namun, selanjutnya, produksi akan kembali naik.
"Kuartal II prediksi turun 5%, terutama karena otomotif April-Mei mengalami gangguan pasokan dari Jepang. Tapi kalau Juni sudah mulai naik," ungkapnya.
Samuel menjelaskan, naik-turunnya pasar otomotif akan berpengaruh juga di pasar kaca lembaran karena sebanyak 25% produksi kaca dalam negeri digunakan untuk produk otomotif.
"Sebanyak 75% untuk bangunan, 25% untuk otomotif. Mau nggak mau pengaruh otomotif naik turun," pungkasnya.
(ade/dnl)











































