Industri Hotel dan Restoran Pasrah Harga Elpiji 50 Kg Naik

Industri Hotel dan Restoran Pasrah Harga Elpiji 50 Kg Naik

- detikFinance
Kamis, 16 Jun 2011 13:30 WIB
Industri Hotel dan Restoran Pasrah Harga Elpiji 50 Kg Naik
Jakarta - Industri perhotelan dan restoran pasrah terkait rencana kenaikan elpiji 50 Kg oleh PT Pertamina (Persero). Kenaikan tersebut dipastikan akan menambah biaya pengusaha dan akan langsung berimbas pada margin.

"Yah, tambah lagi cost lagi, otomatis tambah beban, akibatnya akan terbebani kepada masyarakat lagi, implikasinya akan naikkan harga. Tapi kita akan itung-itungan dulu apakah kenaikan itu masih dalam batas toleransi," kata Wakil Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Johnnie Sugiarto kepada detikFinance, Kamis (16/5/2011).

Ia menegaskan meski ada kenaikan elpiji, secara umum pihaknya belum berencana akan menaikan tarif sewa kamar. Kenaikan elpiji lebih akan memukul pada biaya produksi makanan di hotel maupun di restoran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pihak Pertamina belum kirim surat ke kita, kita belum terima pemberitahuan. Yah, kalau Pertamina yang naikin, kita nggak bisa protes, kalau naik ya kita nurut," katanya.

Sebelumnya PT Pertamina (persero) akan menaikkan harga jual elpiji dengan kapasitas 50 kg lebih mulai akhir Juni 2011. Dengan kenaikan harga elpiji untuk industri itu, Pertamina berharap bisa memangkas kerugian dari jualan elpiji hingga Rp 2 triliun lebih.

VP Komunikasi Pertamina, Muhammad Harun menjelaskan, pihaknya selama ini menderita kerugian yang cukup besar dari penjualan elpiji. Total kerugian Pertamina dari berjualan elpiji di 2010 mencapai Rp 3,24 triliun.

Kerugian dari penjualan elpiji diprediksi mencapai Rp 4,7 triliun di 2011. Hal ini disebabkan karena Pertamina masih menjual harga elpiji di bawah harga keekonomiannya. Seperti diketahui, harga keekonomian elpiji saat ini adalah sekitar Rp 8.500 per kg, namun Pertamina menjual Rp 7.355 per kg.

"Jadi kita sudah melakukan excercise, dan sudah ada lampu hijau dari pemegang saham (pemerintah) untuk menyesuaikan harga. Karena tidak mungkin kita terus mensubsidi harga elpiji yang banyak digunakan untuk industri," ujarnya.
(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads