"Kita tunggu kapan datangnya, kita harapkan jangan sampai terjadi PT Akan dan Akan, kita tunggu. Kita sudah sosialisasi ke masyarakat," kata Bupati Ende Don Bosco M. Wangge Kepada detikFinance, Minggu (19/6/2011).
Don Bosco menjelaskan kini pihaknya sudah menyiapkan lahan 1.250 hektar agar program ini segera jalan. Ia pun masih bingung hingga kini, dari pemerintah pusat maupun investor belum ada tanda-tanda mau merealisasikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya Cheetam Salt Ltd, perusahaan garam asal Australia menggandeng pemda NTT untuk menggarap lahan garam di Kabupaten Nagekeo NTT seluas 2.100 hektar. Proyek ini diluar dari calon lokasi sentra garam di Ende NTT.
"Kalau Ende ditangani oleh kementerian kelautan perikanan dan kementerian perindustrian. Kita Cheetam lebih fokus ke Nagakeo," kata Presiden Direktur PT Cheetam Garam Indonesia Arthur Tanudjaja saat dikonfirmasi.
Arthur menambahkan khusus untuk pengembangan industri garam di Nagakeo, pihaknya masih memfinalisasi kajian kelayakan komersil. Diharapkan tiga bulan kedepan selesai kajiannya dan rencananya jika mulus maka tahun 2012 bisa beroperasi.
"Sekarang ini kita fokus pada Nagakeo, untuk investasi kalau kita bicara infrastruktur sampai US$ 15 juta," jelas Arthur.
Ia menjelaskan jika proyek ini sudah berjalan maka lokasi Nagakeo setidaknya akan menghasilkan produksi garam 230.000 ton per tahun. Jumlah itu berdasarkan hitungan luasan lahan yang dikembangkan 1.050 hektar dengan produksi 150.000 ton ditambah hasil produksi garam petani plasma 80.000 ton per tahun.
(hen/hen)











































