Peluang Investasi Industri Plastik Hilir Masih Besar

Peluang Investasi Industri Plastik Hilir Masih Besar

- detikFinance
Senin, 27 Jun 2011 11:17 WIB
Peluang Investasi Industri Plastik Hilir Masih Besar
Jakarta - Tingkat penggunaan atau konsumsi plastik per kapita Indonesia per tahunnya masih jauh tertinggal dengan negara-negara ASEAN lainnya. Hal ini menjadi peluang besar bagi para investor untuk menanamkan modalnya di sektor hulu maupun hilir plastik.

"Industri plastik hilir termasuk industri packaging merupakan industri yang memiliki pasar prospektif di dalam dan luar negeri. Potensi konsumsi produksi plastik di Indonesia masih cukup besar, konsumsi plastik perkapita per tahun 10 Kg per tahun. Sementara Malaysia sudah mencapai 56 Kg, Singapura 93 Kg, Thailand 45 Kg," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat dalam acara peresmian production Line terbaru dari Biaxially-Oriented Polyester (BOPET) dan Metalizing Line PT Indopoly di Pabrik Indopoly Purwakarta, Jawa Barat, Senin (27/6/2011).

Hidayat menuturkan seiring pertumbuhan ekonomi, kebutuhan plastik hilir di pasar dalam negeri terus meningkat. Selama ini produksi plastik kemasan hilir, banyak digunakan untuk memproduksi barang-barang kebutuhan sehari-hari makanan dan minuman, kosmetika, elektronika, farmasi, otomotif, minyak pelumas dan lain-lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saat ini industri plastik kemasan terdiri 892 perusahaan yang terdiri dari berbagai produk plastik. Kapasitas terpasang 2,35 juta ton per tahun, utilisasi sebesar 70% sehingga produksi rata-rata 1,65 juta ton per tahun," katanya.

Menurutnya dengan capaian industri plastik saat ini setidaknya telah menyerap tenga kerja sebanyak 500.000 orang dengan investasi 2009 sebanyak Rp 27 triliun. Namun masalah bahan baku di sektor hulu masih kurang dipastok dari dalam negeri, sehingga sebagian kebutuhan bahan baku harus diimpor.

"Meskipun struktur industri plastik sudah lengkap dari hulu ke hilir, masih ada tantangan, karena kapasitas produksi terbatas pada bahan baku polypropylene, misalnya tahun 2010 kita masih impor 485.000 ton dari kebutuhan 976.000 ton per tahun," katanya.

(ade/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads