Kalangan industri makanan dan minuman (mamin) meminta kepada pemerintah jaminan suplai gula rafinasi untuk kegiatan produksi menjelang Hari Raya. Industri mamin yang tergabung dalam Forum Industri Pengguna Gula (FIPG) memperkirakan akan ada kenaikan permintaan gula industri hingga 30%.
"Bulan Juni ini dan Juli adalah masa-masa peningkatan produksi dalam rangka memenuhi kebutuhan bulan puasa dan lebaran. Kenaikan produksi cukup signifikan 20-30% dan bisa lebih untuk jenis mamin tertentu seperti sirup dan biskuit," kata Ketua FIPG Franky Sibarani kepada detikFinance, Selasa (28/6/2011).
Franky mengharapkan, pemerintah menjamin kontrak-kontrak antara industri mamin dengan industri gula rafinasi. Sebelumnya, Kementerian Perdagangan akan mengaudit distribusi gula para industri gula rafinasi terkait banyaknya kasus perembesan gula rafinasi ke pasar umum (non industri).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, selama ini hubungan business to business antara industri makanan dan minuman dan industri gula rafinasi sudah berjalan baik."Kalaupun ada masalah, tapi selalu dalam progres menuju perbaikan," katanya.
Menurut Franky, para anggota FIPG menolak usulan sentralisasi impor gula mencakup gula kristal putih (GKP) maupun gula rafinasi. Selama ini industri makanan dan minuman sudah cukup mengalami masa-masa berat karena adanya pembatasan pengadaan gula rafinasi.
"Tahun ini, ijin impor gula rafinasi oleh industri makanan dan minuman hanya untuk spek khusus dan kebutuhan ekspor. Sementara untuk insentif fasilitas investasi, masih tidak jelas. FIPG mengharapkan pemerintah tetap menjadikan gula rafinasi sebagai insentif dari investasi baru atau perluasan," katanya. (hen/ang)











































