"Kalau bisa sekarang ini barang impor masuknya dipersulit, terutama barang (pakaian) jadi. Termasuk barang jadi dari China, seperti underwear," kata Ketua Komite Pedagang Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Heris, Selasa (5/7/2011).
Ia mengatakan jika serbuan pakaian jadi asal China tak terbendung maka permintaan pasar jelang lebaran tahun ini hanya akan dinikmati oleh para industri garmen asal China. Heris berharap pelaku garmen lokal bisa menikmati tingginya permintaan pasar saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya puncak geliat pembeli di Tanah Abang mulai terjadi saat ini hingga akhir Juli, termasuk dua pekan sebelum Lebaran.
Sementara itu Ketua I Koperasi Pedagang Pasar Tanah Abang Yasril Umar mengatakan menjelang puasa dan lebaran arus pakaian jadi impor termasuk dari China terus mengalir. Harga barang-barang China tersebut lebih murah 30-40% dari produk lokal.
"Blus muslim, gamis China sekarang ini mulai langsung dari China, underwear semuanya masuk dari China. Ini harus diproteksi," katanya.
Yasril mengakui dari sisi pedagang murni (bukan IKM) adanya barang jadi asal China memang menguntungkan mereka karena tak perlu membuatnya di dalam negeri. Namun yang menjadi masalah adalah bagi pedagang yang juga pelaku industri kecil garmen.
"Cukup signifikan dari China, seperti pakaian dalam, terutama pakaian dalam wanita. Perbedaan harganya sampai 30-40%, harganya lebih murah," jelasnya.
(hen/dnl)











































