Ketua Asosiasi Biskuit, Roti dan Mie Sribugo Suratmo mengatakan saat ini kondisi industri biskuit dalam negeri relatif aman dari kenaikan harga bahan baku seperti terigu maupun gula. Namun, khawatiran muncul menyusul adanya tren peningkatan impor produk biskuit asal Malaysia.
"Malaysia sudah masuk trennya mulai naik, karena AFTA. Memang sekarang belum terasa menggangu. Soal kekhawatiran itu pasti, yang penting sekarang ini anggota kami penuhi pasar, sebab kalau produksi tak kenceng, kemudian pasar kosong bisa diisi dengan yang lain. Kita sudah penuhi dengan harga relevan," katanya kepada detikFinance, Senin (11/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau produk biskuit China bisa dihadang dengan non tarif barrier, seperti halal dengan non halal," katanya.
Ia menuturkan seperti biasanya masa Puasa dan Lebaran menjadi musim puncak permintaan pasar biskuit nasional. Jika ini tak dimanfaatkan dengan baik, industri biskuit lokal bisa terpangkas pangsa pasarnya oleh produk impor.
"Pabrik produksi berdasarkan market yang bergerak, biasanya puasa ada peningkatan permintaan 10-15%," katanya.
Sebelumnya Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) mencatat terjadi lonjakan impor makanan dan minuman (mamin) sebesar 17,02% selama Januari-Mei 2011. Selama periode itu nilai impor mamin mencapai US$ 89,56 juta sementara periode yang sama tahun lalu hanya US$ 76,54 juta.
Berdasarkan data Gapmmi penyumbang impor mamin terbesar berasal dari negara-negara ASEAN yang mencapai US$ 43,84 juta atau naik 32,6% dari periode sebelumnya yang hanya US$ 33 juta.
Negara ASEAN yang paling tinggi mengekspor makanan ke dalam negeri adalah Malaysia yang mengalami pertumbuhan 76,17%, yaitu dari US$ 11,73 juta menjadi US$ 20,6 juta.
(hen/dnl)










































