Demikian disampaikan Ketua Umum APKBLI, Noval Jamalullail ketika ditemui di Seminar Wire & Tube Southeast Asia 2011 di Grand Hyatt, Jakarta, Senin (11/7/2011).
''Total yang memasok kita dari dalam negeri hanya 20%. Sisanya terpaksa kita impor,'' katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
''Tapi ini kembali ke Pemerintah. Kita juga sedang menunggu kontrak Inalum yang mau habis di 2013, kita harap nanti share pasokan ke kita bisa lebih banyak lagi,'' imbuh Noval.
Mengingat permintaan kabel dari dalam negeri sedang naik, secara keseluruhan pabrikan lokal kabel listrik bisa menampung mencapai 200 ribu ton bahan baku aluminium.
''Maka itu ini yang kita diskusikan ke perindustrian, kita sebetulnya mampu menerima hingga 200 ribu ton. Sekarang yang kita terima dari Inalum saja hanya 50 ribu ton. Itu pun masih harus dibagi dengan Maspion, maka itu kita hanya dipasok 20% dari kebutuhan, 80% harus impor,'' ungkapnya.
Untuk masalah harga, lanjutnya, tidak ada perubahan karena semuanya ditentukan oleh harga pasar. Harga bahan baku dipatok dari LME (London Metal Exchange).
''Sebetulnya, dan seharusnya kita bisa mendapat harga yang lebih murah dari dalam. Sejauh ini hanya berbeda dari shipping cost-nya saja antara yang impor dan tidak. Tapi kalau pasokan dari dalam negeri bisa ditingkatkan, logikanya harga akan lebih murah. Karena kita bisa minta pasok dalam jumlah banyak,'' jelas Noval.
(nrs/ang)











































