"Saya usul kepada BATAN bagaimana tempe dikembangkan dengan teknik radiasi bisa tahah lama, mungkin bisa tahunan," kata Kepala Pusat Standardisasi dan Jaminan Mutu Nuklir BATAN Syahrudin Chaniago kepada detikFinance, Kamis malam (21/7/2011).
Syahrudin mengatakan penelitian tempe radiasi ini penting karena tempe banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan berpotensi untuk pasar ekspor. Kenyataanya usia (layak) tempe sejak diproduksi tak mampu bertahan lebih dari satu hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian soal radiasi tempe semakin diperkuat karena saat ini codex Indonesia sudah mengakui soal tempe. Bahkan dari sisi bisnis perdagangan tempe di dalam negeri mencapai Rp 16 triliun per tahun.
Sementara pasar ekspor pun sangat menggiurkan, karakter tempe yang masuk dalam katagori sayuran sangat potensial bagi negara yang masyarakatnya cenderung vegetarian seperti India, Australia maupun Korea.
"BATAN bukan hanya melahirkan rendang, tapi padi. Padinya dibuat berdasarkan mutasi sel, diradiasi kemudian ditanam, umur (panen) lebih pendek dengan per hektarnya lebih banyak," katanya.
Ia mengatakan kini penelitian nuklir oleh BATAN juga diarahkan pada produk yang bisa digunakan dan bermanfaat secara praktis bagi masyarakat seperti energi, pertanian, peternakan, kesehatan, obat-obatan dan teknologi informasi dan komunikasi. Meski pengembangan listrik tenaga nuklir tetap berjalan walaupun kondisinya melambat karena kekhawatiran dampak nuklir tenaga listrik yang mengerikan.
"Kalau PLTN slowdown, meski kita terus melakukan kita terus jalan, kalau pemerintah mau bangun kita sudah siap. Ini karena masalah Fukusima (Jepang) kemarin," katanya.
(hen/dnl)











































