Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, Euis Saedah mengaku galau karena perputaran bahan baku sapi membingungkan.
"Republik ini membingungkan, saya juga bingung. Kita punya sapi banyak, kulitnya kita olah, tapi setelah itu kita ekspor. Sedangkan kita mau bikin impor dulu dari luar," katanya ketika ditemui di kantornya Selasa (26/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita impor dari Australia, dari Bangladesh, dari India. Impor kulit juga tidak mudah, karantinanya juga rada repot," tambahnya.
Euis berasumsi, banyak dari pengusaha bahan baku kulit dalam negeri yang tidak mau kerepotan untuk menjualnya di pasar lokal. Selain tawaran harga yang relatif lebih murah, banyak dari pengrajin yang hanya meminta bahan baku dalam partai kecil.
"Perlu ada pemikiran bagi usaha yang sudah jd pengusaha bahan baku, ya mbok sisihkan untuk dalam negeri. Biasanya kan susah-susah banget, sudah jual saja keluar," tuturnya.
Euis mengungkapkan, pola-pola pikir seperti inilah yang harus diubah oleh pengusaha-pengusaha yang memang bergerak di bahan baku kulit untuk sekadar bisa meyisakan bagi kebutuhan dalam negeri. Apabila hal tersebut sulit dilakukan, Indonesia hanya akan menjadi negara pemasok bahan baku kulit.
"Jadi mindset ini yang harus diubah. Kita itu secara historis sudah menjadi pemasok bahan baku," pungkasnya.
(ade/dnl)











































