Industri baja dalam negeri semakin sulit bernafas bahkan kolaps menghadapi serbuan baja asal Chhina yang mencapai 1,5 juta ton di 2010. Perlu ada terobosan dalam menurunkan biaya produksi industri agar baja lokal dapat bersaing di negerinya sendiri.
Menurut Kepala LIPI Lukman Hakim, selama ini industri baja Indonesia mengalami pasang surut. Terjadi kenaikan biaya produksi, karena lemahnya infrastruktur dan minimnya insentif untuk investasi baru.
"Industri baja Indonesia harus mengingkatkan produktivitas dan efisiensinya, juga berbenah diri untuk bersaing dengan produsen baja Cina yang akan membanjiri pasar negeri ini," tutur Lukman di Hotel Ritz Calton, SCBD, Jakarta, Rabu (27/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data Kemenperin, China siap menaikkan pesokan baja ke Indonesia sebesar 170,8% dengan adanya ACFTA ini. Dengan derasnya impor baja China, terang Kepala Pusat Penelitian (P2) Ekonomi LIPI, Darwin industri dalam negeri terancam kolaps jika tidak ada pengembangan atau inovasi.
Menurut data Asosiasi Baja Dunia, China kokoh sebagai negara produsen terbesar. Dimana selama krisis 2008-2009 lalu, China masih bisa mencatat pertumbuhan produksi baja 13,5%, menjadi 567,8 juta ton.
"Perbandingan Indonesia hanya memproduksi 7 juta ton dalam bentuk minyak mentah baja setiap tahunnya," tuturnya. (wep/ang)











































