Gas 'Menghilang', Industri Baja RI Melempem

Gas 'Menghilang', Industri Baja RI Melempem

- detikFinance
Rabu, 27 Jul 2011 12:32 WIB
Jakarta - Pasokan gas untuk industri baja yang tidak memenuhi harapan menjadikan biaya produksi tinggi. Padahal jika pemerintah memprioritaskan gas untuk industri baja, maka utilisasi produksi meningkat dan pada akhirnya baja domestik dapat bersaing dengan negara lain.

Menurut Wakil Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) Irvan K Hakim, selama lima tahun terakhir pasokan gas untuk industri baja 'menghilang'. Padahal gas masih menjadi andalan pelaku industri baik untuk proses produksi atau pembangkit energi.

Ini menjadikan, produksi baja nasional tidak maksimal, yang tercatat 6,5 juta ton. Dengan kebutuhan dalam negeri akan baja sebesar 9 juta ton, berarti ada gap yang harus dipasok dari luar negeri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Padahal dengan gas jadi lebih efisien. Lebih banyak produksi. Utilisasi juga naik. Dari yang saat ini 70%, padahal bisa maksimal 90%. Nggak bisa 100%," tutur Irvan dalam Konfrensi Pengembangan Industri Baja di Indonesia, di Hotel Pacific Place, Jakarta, Rabu (27/7/2011).

Selain produksi meningkat, dengan kepastian gas bagi industri baja, menjadikan harga dapat bersaing dengan kompetitor khususnya asal China. "Selama ini permintaan gas tidak berubah. Yang ada supplainya hilang," ucapnya.

Namun Irvan pun sadar, pasokan gas tidak hanya milik industri baja semata. Meski tergolong strategis, pemerintah nyata-nyata masih memprioritaskan gas untuk pembangkit listrik bagi PLN, serta industri pupuk.

"Isu (gas) ini sudah lima tahun terakhir. Di mana yang ada PLN dan pupuk dulu, baru kemudian industri-industri lain dan baja ada di dalamnya. Neraca gas kita besar. Dan industri lain juga pakai," tegasnya.

"Untuk itu kita lakukan inovasi, dengan teknologi dan menghasilkan baja yang lebih banyak. Untuk KS (Krakatau Steel), akan pakai batubara ke depan. Namun selama ini tetap membutuhkan gas," kata Irvan yang juga menjabat Direktur Marketing Krakatau Steel ini.

Untuk itu, ia menegaskan, jika Indonesia ingin sukses dalam industrialisasi akan kunci sukses adalah energi dan infrastruktur.

"Industri baja kita gunakan untuk energi pembangkit dan proses. Kalau nggak dikerjakan (pasokan energi), akan ada kemandekan," imbuhnya.

(wep/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads