Menurut Wakil Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) Irvan K Hakim, selama lima tahun terakhir pasokan gas untuk industri baja 'menghilang'. Padahal gas masih menjadi andalan pelaku industri baik untuk proses produksi atau pembangkit energi.
Ini menjadikan, produksi baja nasional tidak maksimal, yang tercatat 6,5 juta ton. Dengan kebutuhan dalam negeri akan baja sebesar 9 juta ton, berarti ada gap yang harus dipasok dari luar negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain produksi meningkat, dengan kepastian gas bagi industri baja, menjadikan harga dapat bersaing dengan kompetitor khususnya asal China. "Selama ini permintaan gas tidak berubah. Yang ada supplainya hilang," ucapnya.
Namun Irvan pun sadar, pasokan gas tidak hanya milik industri baja semata. Meski tergolong strategis, pemerintah nyata-nyata masih memprioritaskan gas untuk pembangkit listrik bagi PLN, serta industri pupuk.
"Isu (gas) ini sudah lima tahun terakhir. Di mana yang ada PLN dan pupuk dulu, baru kemudian industri-industri lain dan baja ada di dalamnya. Neraca gas kita besar. Dan industri lain juga pakai," tegasnya.
"Untuk itu kita lakukan inovasi, dengan teknologi dan menghasilkan baja yang lebih banyak. Untuk KS (Krakatau Steel), akan pakai batubara ke depan. Namun selama ini tetap membutuhkan gas," kata Irvan yang juga menjabat Direktur Marketing Krakatau Steel ini.
Untuk itu, ia menegaskan, jika Indonesia ingin sukses dalam industrialisasi akan kunci sukses adalah energi dan infrastruktur.
"Industri baja kita gunakan untuk energi pembangkit dan proses. Kalau nggak dikerjakan (pasokan energi), akan ada kemandekan," imbuhnya.
(wep/dnl)











































