Industri Baja RI Butuh 20 Tahun untuk Saingi China

Industri Baja RI Butuh 20 Tahun untuk Saingi China

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Rabu, 27 Jul 2011 14:28 WIB
Industri Baja RI Butuh 20 Tahun untuk Saingi China
Jakarta -

Industri baja Indonesia baru dapat bersaing China 20 tahun dari sekarang. Itupun jika pemerintah berhasil mengimplementasikan strategi jangka panjang dari road map yang sudah disusun Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Demikian disampaikan Peneliti Ekonomi Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI, Siwage Dharma di Pacific Place, SCBD, Jakarta, Rabu (27/7/2011).

"Susah untuk head to head dengan China saat ini, perlu strategi. Kalau pun strategi benar, dalam waktu 10-20 tahun bisa kita kejar. tapi kalau salah berapa tahun pun tidak bisa kejar," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski Kemenperin sudah memiliki road map industri baja, namun hingga kini tidak ada implementasi secara nyata dalam memanjukan industrialisasi.

Lalu apa yang bisa dilakukan Indonesia dalam waktu dekat? Siwage menyarankan agar Indonesia fokus pada produk plated steel. Produk ini cukup kompetitif, khususnya untuk pasar luar negeri.

"Indonesia perlu melihat pasar yang saat ini potensial. Misalnya untuk ekspor dan bisa ditingkatkan. Terutama plated product. Ada beberapa yang cukup kompetitif. Tapi mungkin skala produksi kita lemah, rendah. Sehingga tidak bisa bersaing dalam hal harga. Karena baja itu kuncinya bagaimana bisa menekan biaya atau cost," jelas Siwage.

Namun pekerjaan rumah ini tidak semata menjadi tugas Kemenperin. Perlu ada sinergi antara kementerian terkait demi mewujudkan industrialisasi baja di Indonesia.

Dalam jangka pendek, Indonesia juga bisa menggejot produksi jenis baja yang telah ditinggalkan China. Namun masih harus dipertimbangkan skala bisnisnya.

"Karena yang ditinggalkan China adalah produk yang bernilai tambah rendah," imbuhnya.
 
Dekade ini memang Chhina berjaya untuk industri baja dunia. Negara Tirai Bambu ini mampu memproduksi 567,8 juta ton di tahun 2009. Di tengah dunia mengalami resesi ekonomi 2008-2009, Cina masih mencatat pertumbuhan produksi baja 13,5%.
 
Bandingkan dengan Indonesia, produksi baja nasional hanya 6,5 juta ton. Padahal potensi kebutuhan baja dalam negeri mencapai 9 juta ton. Jadi ada impor baja 3,5 juta ton yang harusnya bisa dipasok dari industri baja dalam negeri.

(wep/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads