Permintaan Melonjak, Industri Truk Genjot Produksi

Permintaan Melonjak, Industri Truk Genjot Produksi

- detikFinance
Jumat, 29 Jul 2011 11:33 WIB
Permintaan Melonjak, Industri Truk Genjot Produksi
Jakarta - Industri truk dalam negeri mengakui kewalahan memenuhi permintaan truk yang saat ini begitu tinggi. Misalnya produsen truk Hino mengaku mendapat permintaan truk secara mendadak.

Komisaris PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) Gunadi Sindhuwinata mengatakan permintaan truk yang mendadak dalam jumlah besar itu membuat proses pengiriman truk baru harus menunggu hingga bulanan.

"Ya memang permintaan meningkat delivery empat bulan tapi akan cepat dapat ditanggulangi. Ini karena order mendadak naik terus, sedang biasanya ada lead time (waktu transisi)," katanya kepada detikFinance, Jumat (29/7/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian pihaknya akan segera mengantisipasi kondisi tersebut kedepannya. Sektor angkutan komersial saat ini terdorong menggeliatnya pertumbuhan sektor pertambangan dan infrastruktur.

"Tapi kedepan pesanan komponen ditambah sehingga lead time dan waktu tungggu dapat diperpendek," kata Gunadi.

Sementara itu Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur mengatakan kebutuhan truk komersial di dalam negeri per tahunnya bisa mencapai 60.000 unit. Permintaannya terus bertambah sejalan membaiknya pertumbuhan ekonomi.

Ia menjelaskan harga truk baru dengan kapasitas 20 ton saat ini mencapai Rp 1,2 miliar. Harga itu bisa ditekan mencapai Rp 800 juta jika industri truk lebih efisien dengan mendapat keringanan bea masuk bahan baku. Sementara jika dibandingkan dengan harga truk bekas tahun 2008 dengan jenis yang sama hanya Rp 600 juta per unit.

"Sekarang saya lagi berpikir, truk baru dengan harga Rp 800 juta," katanya.

Sebelumnya Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan saat ini memang masih ada celah untuk kebutuhan 2-3% permintaan truk di dalam negeri yang harus menunggu lama. Hidayat menegaskan opsi adanya impor truk bekas belum jadi prioritas karena kriterianya harus jelas dan harus terbatas.

"Saya belum melihat itu sebagai sesuatu yang urgen," tegas Hidayat.
(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads