Ini Dia Alasan Harga Garam Impor Lebih Murah

Ini Dia Alasan Harga Garam Impor Lebih Murah

- detikFinance
Jumat, 05 Agu 2011 16:16 WIB
Ini Dia Alasan Harga Garam Impor Lebih Murah
Jakarta - Selain kalah dari sisi volume, garam lokal juga tak bersaing dari sisi harga dengan garam impor. Harga Garam lokal sesuai ketentuan kementerian perdagangan Rp 750 per Kg sementara garam impor hanya Rp 540 per Kg.

Faktanya saat ini petani garam lokal mau tidak mau harus menerima pil pahit dengan menjual garamnya sesuai dengan harga impor.

Menurut Direktur Utama PT Garam, Slamet Untung Irredenta, jangka waktu produksi negara-negara asal impor garam seperti Australia dan India tergolong lebih panjang dibadingkan dengan Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau murah itu tergantung kapasitas produksi. Australia masa produksinya bisa 11 bulan, Indonesia cuma 4 bulan," ujarnya ketika dihubungi detikFinance Jumat (5/8/2011).

Slamet menambahkan, dengan lamanya masa produksi yang dimiliki, beberapa negara seperti Australia dan India yang mengekspor garam ke Indonesia dapat memasukan garam dengan jumlah yang besar sepanjang tahun.

"Semakin banyak produksi maka cost produksinya semakin rendah bila dibadingkan dengan yang produksi sedikit," tuturnya.

Slamet mengungkapkan, dengan banyaknya impor garam yang masuk ke Indonesia, membuat banyak petani yang mau tidak mau menurunkan harga garamnya mengikuti harga garam impor. Harga garam petani dari pemerintah sejatinya untuk kualitas I Rp 750 per kg, sementara harga garam impor hanya Rp 540 per kg.

"Ya mau nggak mau para petani menurunkan harga jadi seperti garam impor. Mau makan apa mereka kalau pakai harga pemerintah," jelasnya.

Seharusya, kata Slamet, garam impor sudah tidak boleh lagi masuk ke Indonesia sejak Juli 2011 lalu. Namun, masih ditemukan garam-garam impor di pelabuhan-pelabuhan di Indonesia, salah satunya yang ditemukan di Ciwandan, Baten yang terjadi hari ini yang jumlahnya sekitar 11.000 ton asal India.

"Selalu ada alasan untuk tetap memasukan garam impor. Katanya menghabiskan kontrak lah, yang 5 bulan, yang 1 tahun," imbuhnya.

Dihubungi terpisah Sekjen Asosiasi Produsen Garam Konsumsi Beryodium (Aprogakop) Tanu Wihodhino mengakui, ketersediaan impor garam yang sudah masuk semenjak tahun 2010 lalu masih ada dan sedang dalam penghabisan.

"Diperkirakan panen garam tahun ini agak mundur, mungkin bulan ini atau bulan 9 besok. Jadi masih pakai garam impor tahun 2010 lalu," ujarnya.

Tanu juga mengakui, memang sudah tidak ada izin impor lagi untuk tahun ini. Namun, di satu sisi memang panen garam tahun ini juga diperkiakan tidak mungkin untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri yang bisa mencapai 1,4 juta ton.

"Garam dari lokal memang tidak mungkin mencukupi kebutuhan 1,4 juta," imbuhnya.

(ade/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads