Presiden Direktur PT Cheetam Garam Indonesia Arthur Tanudjaja mengatakan saat ini Indonesia hanya memiliki industri garam melalui PT Garam. BUMN garam ini pun merupakan hasil bentukan pemerintah Belanda puluhan tahun lalu.
"Proyek kita ini pertama setelah kita merdeka, PT Garam dulu dibangun oleh pemerintah Belanda," katanya kepada detikFinance, Rabu (10/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun depan dimulai investasi, kalkulasi kita akan memproduksi 250.000 ton garam, produksi dengan plasma," katanya.
Ia juga mengatakan dengan harga garam yang telah ditetapkan pemerintah Rp 550 dan Rp 750 per kg itu sudah sangat menggiurkan bagi investor. Menurut Arthur nantinya produksi garam Cheetam di NTT akan diolah menjadi garam konsumsi dan industri.
Selama ini Cheetam telah memiliki unit produksi di Cilegon dengan mengolah garam impor menjadi garam-garam industri.
"Kalau dulu saat harga garam Rp 100, Rp 250 per kg siapa yang mau bangun pabrik garam di NTT," katanya.
Ia mengatakan selama ini pelaku garam di dalam negeri lebih banyak sebagai pembeli garam petani yang merangkap sebagai penjual dan juga mengimpor garam. Ia berharap proyek Cheetam di NTT bisa menjadi titik awal pembangunan industri garam di Indonesia.
Jika proyek ini sudah berjalan maka lokasi Nagakeo NTT setidaknya akan menghasilkan produksi garam 230.000-250.000 ton per tahun. Jumlah itu berdasarkan hitungan luasan lahan Cheetam yang dikembangkan 1.050 hektar dengan produksi 150.000 ton ditambah hasil produksi garam petani plasma 80.000 ton per tahun.
(hen/dnl)











































