Akibatnya, ada penambahan dari 139 sampel negara menjadi 142 negara mengakibatkan peringkat daya saing Indonesia melorot. Padahal menurut Mari, secara garis besar pertumbuhan Indonesia masih baik.
"Terkait rangking Indonesia dalam WEF, ada penurunan dari 44 ke 46. Tapi sebetulnya, dari apa yang terjadi karena ada penambahan 3 negara sebagai sampel WEF. Waktu 44 peringkat kita itu basis sampelnya ada 139 negara. Nah sekarang kita ke 46 tapi karena 142 negara. Intinya kita tidak ada perubahan, secara umum Indonesia masih baik," klaim Mari dalam jumpa pers yang dilaksanakan di kantornya, Jakarta, Jum'at (9/9/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi bisa dibilang Indonesia tidak banyak berubah, tahun lalu saja kita naik 11 peringkat. Tahun lalu kita ada perbaikan yang luar biasa," tegas Mari.
Dikatakan Mari daya saing Indonesia kurang lebih sama posisinya dan ada beberapa hal yang membaik seperti sektor untuk manajemen ekonomi makro. Sektor ini, lanjut Mari, mencatatkan kenaikan dari peringkat 25 ke 23.
Namun, berbicara mengenai infrastruktur, Mari mengakui kalau Indonesia memang masih membutuhkan banyak pembenahan di sektor tersebut. Walaupun secara umum ada perbaikan dalam sektor infrastuktur. Rangking daya saing Indonesia mengalami penurunan karena permasalahan listrik.
"Ini hal yang perlu diketahui, maka itu pemerintah dalam program MP3EI dan infrastuktur menjadi sangat penting dalam menjaga daya saing. Banyak dari kita yang tumbuh baik, tapi memang ada yang kurang membaik. Dan itu bisa berarti karena negara lain lebih cepat melakukan perbaikan, bukan berarti karena kita yang memburuk," ucapnya.
Meski demikian, Mari tetap meyakinkan bahwa aliran investasi yang masuk ke Indonesia akan terus berjalan. Dari buruknya pengembangan infrastruktur di Indonesia yang memang masih menjadi kendala, menurutnya, dapat menjadi titik balik dalam bertambahnya investasi di sektor infrastuktur.
"Kalau misalnya, dibuat analisa, pasti ada peningkatan minat invesasi ke Indonesia. Karena di situ (WEF) ada hal yang terkait dalam perdagangan misalnya, terkait kelancaran ekspor impor. Maka itu memang pembenahan infrastruktur bagi kita masih menjadi catatan penting," jelas Mari.
Seperti diketahui Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu telah dipilih menjadi founding member Advisory Board on Global Competitiveness World Economic Forum (WEF). Sebagai anggota Advisory Board (dewan penasehat), Mari akan memberikan masukan dalam Global Competitiveness Report (GCR) yang dikeluarkan setiap tahun oleh WEF.
(nrs/hen)











































