"Delta pertumbuhan sudah mulai, tapi yang diperlukan garam itu selain terik matahari, tinggi rendahnya kelembaban itu diperlukan," kata Direktur Utama PT Garam Slamet Untung Irredenta kepada detikFinance, Senin (12/9/2011).
Ia menjelaskan beberapa lokasi sentra produksi garam seperti Madura memang masih mengalami hambatan tingginya kelembaban cuaca. Meski di kawasan itu juga telah menerima terik matahari yang tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengakui produksi garam petani perlahan-lahan terus menanjak. Namun lagi-lagi masalah stok garam impor yang cukup tinggi membuat garam lokal masih terpukul alias belum ada perbaikan.
"Terjadi peningkatan yang besar sudah produksi lebih dari 360.000 ton, tapi problem stock import terlalu banyak sehingga harga garam di tingkat petani rendah belum mencapai harga pemerintah yakni Rp 750 per kg," katanya.
Tahun ini diperkiran produksi garam petani bisa mencapai 1,2-1,4 juta ton, sementara kebutuhan garam konsumsi (rumah tangga dan industri kecil) mencapai 1,6 juta ton. Namun garam impor yang masuk sudah mencapai 930.000 ton atau lebih dari setengah kebutuhan per tahun.
Β
(hen/qom)











































