Jerman Minati Investasi Industri Alat Pertanian di Indonesia

Jerman Minati Investasi Industri Alat Pertanian di Indonesia

- detikFinance
Selasa, 13 Sep 2011 08:30 WIB
Jerman Minati Investasi Industri Alat Pertanian di Indonesia
Jakarta - Para pengusaha Jerman sangat tertarik terhadap prospek investasi dan pengembangan industri pasca panen dan olahan pangan di Indonesia. Jerman memiliki keunggulan dalam penguasaan teknologi alat pertanian termasuk padi dan palawija.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi menuturkan teknologi pasca panen dan olahan pertanian yang banyak menarik minat industri Jerman adalah pengeringan dan integrated agro-processing untuk biji-bijian atau sereal, hortikultura dan rempah, serta daging segar, terutama ikan dan ayam.

"Lebih dari 90% pengeringan padi dan palawija di Indonesia masih mengandalkan sinar matahari. Kita membutuhkan antara 9.000 - 12.000 unit pengering tersebar diseluruh Indonesia," kata Bayu kepada detikFinance, Selasa (13/9/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini disampaikan oleh Bayu usai melakukan kunjungan kerja ke Berlin, Jerman 8-9 September 2011, memenuhi undangan Pemerintah Jerman untuk memberi Key Note Speech tentang Prospek Pangan Pertanian Indonesia dan ASEAN pada Asia Pasific Week Berlin.

Dikatakan Bayu, jika alat pengering tersebut bisa diadakan, maka kehilangan pasca panen dapat ditekan antara 2-3%. Angka ini setara dengan lebih dari 2 juta ton beras, jika dirupiahkan senilai kurang lebih Rp 12 triliun.

"Prospek ini merupakan daya tarik besar untuk investasi," katanya.

Bahkan kata Bayu, adanya peningkatan permintaan konsumen untuk produk yang lebih baik juga membuka prospek investasi dan bisnis pengemasan yang besar. Kemasan vakum untuk beras dan biji-bijian lain seperti biji kopi semakin dibutuhkan.

"Nilai tambah yang dapat ditimbulkan dari kegiatan ini untuk beras premium saja diperkirakan dapat mencapai Rp 3 triliun," katanya.

Menurut Bayu, beberapa industri di Jerman juga memandang posisi sentral Indonesia di ASEAN yang berpenduduk 600 juta, dengan kekuatan ekonomi sekitar US$ 1.500 miliar. Wilayah ini juga memiliki kaitan erat dengan China dan India.

Para industri Jerman juga lebih tertarik terhadap prospek ekonomi regional Asia Tenggara, khususnya Indonesia untuk teknologi yang terkait dengan consumers product.

"Dalam konteks ini, Indonesia meminta agar investasi lebih dikedepankan dari pada perdagangan alat-alat atau mesin saja," seru Bayu.

Dikatakan Bayu, investasi tersebut pun perlu dalam bentuk paket yang utuh, terutama dalam aspek pengembangan SDM dan R&D. Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB). Sehingga diharapkan dapat menjadi mitra strategis perusahaan-perusahaan industri Jerman.

(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads