Bangun Industri Bioetanol, Inkud Gaet Perusahaan Malaysia

Bangun Industri Bioetanol, Inkud Gaet Perusahaan Malaysia

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Selasa, 20 Sep 2011 09:56 WIB
Bangun Industri Bioetanol, Inkud Gaet Perusahaan Malaysia
Jakarta - PT Inkud Exchange berencana membangun industri bioetanol yang berbahan baku sisa ampas kelapa sawit, dengan bekerja sama dengan perusahaan Malaysia, Lestari Pasifik Berhard. Investasi dalam pembangunan ini mencapai US$ 350 juta.

Direktur Inkud Exchange, Herman Wutun, dalam rilis yang dipublikasikan di Jakarta, Selasa (20/9/2011), mengatakan pengembangan industri bioetanol ini merupakan generasi dua, dan diharapkan dapat memberi nilai tambah bagi pemilik Pabrik Kelapa Sawit (PKS) sekaligus terjadi peningkatan sistem pengolahan limbah.

Kerja sama antara Inkud dengan Lestari Pasifik memungkinkan Indonesia menjadi produsen bioetanol berbahan baku ampas sawit di dunia. Perseroan menggukan teknologi mekano-enzimatik system, yakni sistem dan metode pra-treatment dari ampas minyak kelapa sawit dan hidrolisis enzymatic hydrolysis of polysaccharides.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ampas yang dihasilkan itu kemudian menjadi ampas karbohidrat larut yang harus difermentasi oleh ragi maupun mikroorganisme lainnya untuk menjadi bioetanol," kata Herman. Inkud sendiri menargetkan dapat membangun 316 bio-refinery tanaman selama periode lima tahun.

Ia menambahkan, bioetanol rencananya akan diekspor ke China yang menjadi salah satu negara pengkonsumsi terbesar untuk menggantikan bahan bakar biodiesel kendaraan di sana.

CEO Lestari Pasifik Berhard, Dato Dr Clement Tan Wei Loon, menegaskan, keuntungan bersama akan didapat pemilik PKS dari hasil penjualan bioetanol yang telah diproses PT Inkud. "Dengan kemitraan antar dua pihak, maka kapasitas untuk berkolaborasi dengan PKS, demi mengamankan penjualan ampas kelapa sawit dan menyewakan lahan untuk pembangunan, konstruksi, dan pengoperasian pabrik bio-tanaman modular dalam jarak dekat, dengan masing-masing PKS yang telah disepakati," imbuh Clement Tan.

(wep/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads