"Bukan semata-mata hitungan bisnis," ungkap Kepala Pusat Pengelolaan Data dan Informasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Hanung Harimba Rachman disela acara Diklatnas II Hipmi-Lemhanas di Gedung Lemhanas, Jakarta, Rabu (21/9/2011).
Adapun yang menjadi alasan perusahaan BB asal Kanada ini membangun pabriknya di Malaysia yakni mengenai banyaknya pekerja asal Malaysia di RIM sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan Hanung, memang dari sisi infrastruktur di Negeri Jiran tersebut lebih mumpuni. Tetapi, sambungnya Indonesia seharusnya tidak kalah hebatnya dari sisi pangsa pasar pengguna BB.
Sementara itu, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mendorong agar BKPM berkordinasi dengan kementerian terkait untuk mengoptimalkan diplomat perdagangan yang berada di luar negeri untuk menarik investor potensial ke dalam negeri, utamanya investasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi.
"Ternyata lobi-lobi negara tetangga memang lebih kencang ke RIM misalnya. Bahkan profesional Malaysia yang ada di RIM yang melobi.Nah kita harus optimalkan diplomasi dagang kita di luar negeri," papar Ketua Bidang Perdagangan BPP Hipmi Harry Warganegara kepada detikFinance.
Dia mengatakan, pasar industri TIK (teknologi informasi dan komunikasi) Indonesia masih akan menjadi incaran produsen dunia ke depan.
Untuk itu, pemerintah perlu melakukan pendekatan terhadap produsen dunia yang pasarnya kian membesar di Indonesia agar membangun manufakturnya di Indonesia.
Seperti diketahui, RIM memutuskan untuk membangun pabrik BB di Malaysia. Keputusan RIM itu tentu saja membuat pemerintah Indonesia kecewa mengingat pangsa pasar pengguna BB di Indonesia 10 kali lipat dari Malaysia. Bahkan pada tahun 2012, RIM diprediksi bisa menangguk penjualan BB hingga Rp 10 triliun.
Pemerintah Indonesia pun berniat untuk mengenakan disinsentif pada produk BB dan juga produk-produk yang tidak diproduksi di Indonesia namun membidik pasarnya.
(dru/qom)











































