Ketua II Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Sutaryo mengatakan sebelum Lebaran, kedelai menyentuh titik harga terendah yaitu berkisar Rp 5.500-5.600 per kg. Namun usai Lebaran harga kedelai kembali terkoreksi naik menjadi Rp 5.700-5.800 per kg.
"Beberapa hari ini harga kedelai sudah naik lagi 50-100 per kg. Sekarang harga di eceran Rp 6.000 per kg, sudah terjadi dua hari ini, sekarang harga terendah Rp 5.700 dan harga kedelai tertinggi Rp 6.100 per kg," kata Sutaryo kepada detikFinance, Kamis (22/9/2011)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau harga kedelai menyentuh Rp 7.000 per kg, itu ada peluang kenaikan harga produk tempe di tingkat perajin," katanya.
Sutaryo menjelaskan meski secara fundamental produksi kedelai dunia masih tinggi namun tak menjamin harga kedelai turun kembali. Hal ini disebabkan karena faktor nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang cenderung melemah belakangan ini.
"Kita punya ukuran, kalau ada pelemahan rupiah sebesar Rp 100 maka akan mempengaruhi kenaikan harga kedelai di dalam negeri Rp 25 per kg," jelasnya.
Maklum saja hingga kini Indonesia masih sangat tergantung banyak dengan kedelai impor yang sangat sensitif terhadap nilai tukar rupiah. Ia memperkirakan harga kedelai tetap akan berangsur-angsur naik dengan pertimbangan kenaikan harga minyak dunia, demand yang tinggi dan faktor pembelian kedelai dari China.
"Memang produksi kedelai di Amerika masih tinggi, tapi kalau China nggak ambil, maka pasar sepi harga turun, begitu China ambil harga naik. Kalau kita impor 2 juta ton, China 34 juta ton, kita nggak ada apa-apanya," jelasnya.
Beberapa bulan terakhir harga kedelai dunia memang cenderung turun karena adanya spekulasi peningkatan hasil produksi kedelai di Amerika Serikat. Ditambah spekulasi cuaca kering diperkirakan akan mempercepat kematangan tanaman kedelai.
(hen/dnl)











































