Hidayat dan Mari Elka Kembali Berseteru Soal Ekspor Rotan

Hidayat dan Mari Elka Kembali Berseteru Soal Ekspor Rotan

- detikFinance
Selasa, 27 Sep 2011 12:16 WIB
Hidayat dan Mari Elka Kembali Berseteru Soal Ekspor Rotan
Jakarta - Menteri Perindustrian MS Hidayat mengaku kesal dengan sikap Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu yang tetap ngotot ingin mengekspor rotan Indonesia. Dua menteri ini berbeda persepsi dalam menentukan kebijakan soal bahan baku rotan yang dimiliki Indonesia.

"Saya sebel, you tulis. You tulis saja biar publik tahu bahwa saya bertentangan dengan dia (Mari Elka)," ucap Hidayat dengan nada. kesal saat dihubungi detikFinance, Selasa (27/9/2011).

Hidayat mengatakan sudah melakukan pertemuan empat mata dengan Mari namun hasilnya tak mencapai titik temu. Hidayat menganggap ekspor rotan harus distop untuk memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri dan adanya buffer stock rotan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Prinsipnya tak memberikan amunisi kepada pesaing kita," katanya.

Dikatakan Hidayat, Mari selalu beralibi bahwa ekspor rotan tetap diperlukan karena tak semua rotan yang dihasilkan di Indonesia bisa diolah oleh industri dalam negeri. Hal ini terkait dengan proses revisi Permendag No.36/2009 tentang Ketentuan Ekspor Rotan.

"Dia tidak setuju karena alasan keseimbangan," katanya.

Ia mengakui cara pandang Mari dalam melihat perdagangan bebas seakan tak melihat kepentingan nasional. Padahal selama ini dengan Indonesia banyak mengekspor bahan baku rotan ke China, secara langsung memberi amunisi bagi industri furnitur China untuk memukul industri furnitur rotan dalam negeri.

"Dia berpandangan bahwa free trade for free trade, kalau saya bagaimana untuk kepentingan industri dalam negeri," katanya.

Dalam pertemuan tertutup antara Mendag dan Menperin di Jakarta, Senin (26/9/2011), kedua pihak hanya sepakat, membentuk Tim Kecil untuk merumuskan regulasi baru terkait ketentuan ekspor rotan.

Tim itu memiliki waktu sekitar 3 pekan untuk merumuskan regulasi baru, yakni revisi atas Permendag No.36/2009 tentang Ketentuan Ekspor Rotan.

"Kalau masih deadlock juga, saya tetap dengan sikap saya menyetop ekspor rotan," katanya.

Sementara itu Mari mengatakan usai pertemuan kemarin dengan Hidayat, tim kecil dibentuk sebagai bagian dari pembahasan revisi permendag soal ekspor rotan.

"Saat ini, sedang finalisasi peraturan yang baru. Arahnya, sepakat ke ketersediaan bahan baku untuk industri di dalam negeri. Kita sempurnakan aturannya. Ada beberapa opsi, termasuk soal buffer stock dan pasar lelang rotan. Juga, penyempurnaan jaminan penjualan bahan baku ke dalam negeri oleh eksportir. Pembuktiannya akan diperketat. Teknisnya nanti dibahas Tim Kecil," jelas Mari.

Sikap Mari yang tetap membuka keran ekspor rotan juga sempat menuai ketegangan dengan Menteri Perindustrian terdahulu yaitu Fahmi Idris. Bahkan kalangan perajin rotan di Cirebon melakukan aksi demo saat kunjungan Mari ke Cirebon beberapa tahun lalu.
(hen/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads