Mari Elka Dituding Tak Konsisten Buka Keran Ekspor Rotan

Mari Elka Dituding Tak Konsisten Buka Keran Ekspor Rotan

- detikFinance
Selasa, 27 Sep 2011 14:24 WIB
Mari Elka Dituding Tak Konsisten Buka Keran Ekspor Rotan
Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendesak penghentian ekspor rotan. Langkah Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu yang masih menginginkan ekspor rotan dituding tak konsisten dengan pernyataannya yang ingin mengembangkan produk dalam negeri.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik Natsir Mansyur kepada detikFinance, Selasa (27/9/2011).

"Sudah saatnya stop ekspor barang mentah gelondongan, kita sedang mengembangkan hilirisasi produk dalam negeri. Ini pernyataan resmi dari Kadin," kata Natsir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Natsir menuturkan selama ini Mari selalu menyampaikan komitmennya dalam mendorong diversifikasi pasar dan produk dalam negeri, daya saing, dan melindungi pasar dalam negeri. Menurutnya keinginan untuk tetap mengekspor rotan bentuk dari ketidakkonsistenan Mari.

"Dia harus konsisten dong dengan pernyataannya, sebab bahaya kalau ada menteri seperti ini," katanya.

Dikatakannya sudah saatnya Indonesia mengedepankan ekspor barang jadi tidak lagi barang mentah seperti yang terjadi dalam kasus ekspor rotan. Natsir menegaskan tak mau berkomentar lebih jauh soal adanya ketegangan antara Menperin MS Hidayat dengan Mendag Mari Elka Pangestu apalagi dikaitkan dengan isu reshuffle.

"Saya tahu apakah mereka sampai tegang, tapi yang pasti harus ada kebijakan menyetop ekspor barang mentah," ucapnya.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengaku kesal dengan sikap Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu yang tetap ngotot ingin mengekspor rotan Indonesia. Dua menteri ini berbeda persepsi dalam menentukan kebijakan soal bahan baku rotan yang dimiliki Indonesia.

"Saya sebel, you tulis. You tulis aja biar publik tahu bahwa saya bertentangan dengan dia (Mari Elka)," ucap Hidayat.

Hidayat mengatakan sudah melakukan pertemuan empat mata dengan Mari namun hasilnya tak mencapai titik temu. Hidayat menganggap ekspor rotan harus distop untuk memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri dan adanya buffer stock rotan.

"Prinsipnya tak memberikan amunisi kepada pesaing (Tiongkok) kita," katanya.

Dikatakan Hidayat, Mari selalu beralibi ekspor rotan tetap diperlukan karena tak semua rotan yang dihasilkan di Indonesia bisa diolah oleh industri dalam negeri. Hal ini terkait dengan proses revisi Permendag No.36/2009 tentang Ketentuan Ekspor Rotan.

(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads