"Saya beberapa bulan lalu sudah tulis surat ke Presiden SBY, mau minta pertemuan, kita minta ekspor rotan ditutup, tapi jawabannya karena ini masalah perdagangan dan sudah dimengerti kami serahkan ke kementerian perdagangan, perdagangan ini powerful sekali. Kita cuma satu visi dengan kementerian perindustrian," kata Ketua Umum AMKRI Hatta Sinatra kepada detikFinance, Kamis (29/9/2011)
Hatta mengatakan jawaban itu ia dapat dari surat jawaban Sekretaris Kabinet Dipo Alam. Ia pun tak tahu apakah surat itu sudah benar-benar sampai ke tangan Presiden SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sehingga menurutnya tak mengherankan jika Menteri Perindustrian MS Hidayat mengaku kesal dengan sikap Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu yang begitu ngotot tetap membuka keran ekspor rotan.
"Entah kenapa Mendag seperti orang kesurupan yang sudah diberikan input positif tetap nggak peduli dan tak dipakai tetap ingin ekspor rotan. Jadi ini (ekspor rotan) memang ini kebijakan SBY melalui kemendag," katanya.
Menurut data dari AMKRI ekspor furnitur rotan Indonesia sejak 2005 terus menurun, dari US$ 347 juta menjadi hanya US$ 138 juta di Agustus 2010. Kondisi industri rotan jadi Cirebon yang merupakan barometer industri rotan nasional pun kembang kempis kondisinya. Hal ini karena mereka sulit mendapatkan bahan baku yang dipicu dibukanya kran ekspor rotan.
"Padahal kita punya kemampuan bisa ekspor US$ 1 miliar produksi. Beberapa tahun terakhir terus turun bahkan semester pertama tahun ini kita hanya bisa ekspor US$ 57 juta," jelasnya.
Imbasnya, tahun lalu saja ada 43% atau 220 perusahaan rotan yang gulung tikar, sementara 40% atau 208 perusahaan ada di stadium 4 atau hampir kolaps, dan 17% atau 73 perusahaan masih tetap bertahan.
(hen/dnl)











































