"Sudahlah ya, saya bilang mudah-mudahan, jangan dikonfrontasikan karena saya secara pribadi kan dia counterpart (rekan kerja) saya, cuman kadang-kadang berbeda visi. Saya sekali-kali diwacanakan di publik nggak apa, tapi jangan tiap kali," kata Hidayat di kantornya, Jumat (30/9/2011)
Ia mengatakan saat ini persoalan regulasi soal tata niaga rotan sudah menjadi pembahasan kedua pihak dilevel eselon I melalui tim kecil. Beberapa pembahasan krusial dalam menentukan kelanjutan nasib Permendag No 36/M-DAG/PER/8/2009 tentang ketentuan ekspor rotan yang akan berakhir Oktober 2011 ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hidayat menambahkan selama ini industri olahan rotan di dalam negeri mengalami kesulitan memperoleh bahan baku rotan. Sementara mereka juga harus bersaing dengan industri olahan rotan luar negeri seperti China dan Vietnam yang bahan baku rotannya dari Indonesia.
"Itu sesuatu yang menurut saya ironis, itu harus kita sepakati," katanya.
Ia menegaskan semua kebijakan pemerintah harus mendukung produksi dan menjaga pasar dalam negeri sebagai keberpihakan pemerintah. Sementara mengenai ancaman WTO atau organisasi perdagangan duni, lanjut Hidayat, tak perlu dilawan tapi harus disiasati.
"Kami minta dua minggu kesepakatannya agar tim bekerja. kan baru tiga hari," katanya.
(hen/dnl)











































