Menurut Direktur Keuangan UNSP, Harry M. Nadir, saat ini kontribusi bisnis oleochemical hanya 9% atau senilai Rp 520 miliar. Hal ini disampaikan Harry di Ritz Calton, Jakarta, Kamis (6/10/2011).
Ia menambahkan, peningkatan ini seiring beroperasinya pabrik penyulingan (refinery) dan pabrik yang menghasilkan stiaryn dan glyserin pada awal tahun 2012.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perseroan menargetkan total volume oleochemical sebesar 320 ribu pada 2011 dibanding periode sama sebelumnya 255 ribu. "Memang masih kecil dibanding bisnis kami lainnya misalnya CPO yang sebesar Rp 2,8 triliun dan dari usaha rubber sebesar Rp 1,1 triliun," tambah Direktur UNSP, M.Iqbal Zainuddin.
Kondisi terkini, produksi oleo chemical sebesar 45 ribu ton per tahun. Pada masa mendatang terjadi peningkatan produksi menjadi 300 ribu ton olein, 50 ribu ton stiaryn,30 ribu ton fatty alcohol, dan 20 ribu ton fatty acid.
Kemudian akan ada investasi lain berupa pengembangan pembangkit listrik dan jetty dengan total nilai US$ 50 juta. "Pembangkit listrik mungkin sekitar US$ 25 juta dan untuk pembangunan jetty sebesar US$ 12 juta," tegasnya.
Namun selain pembangunan fasilitas pendukung pabrik oleo, terdapat opsi pembelian listrik dan sewa jetty. Jika opsi ini dipilih, tentu lebih mengefisiensikan pengeluaran UNSP.
(wep/ang)











































