"Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan keluar dari RSPO ya, menurut saya itu bagus karena kita sudah punya ISPO," ujarnya saat ditemui di Expo Nasional Inovasi Perkebunan 2011 di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (14/10/2011).
Menurut Suswono, keikutsertaan perusahaan-perusahaan kelapa sawit di Indonesia dalam forum internasional tersebut tidak memberikan keuntungan apapun bagi Indonesia sehingga tidak perlu dikhawatirkan jika Indonesia lepas dari RSPO.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suswono menegaskan dideklarasikannya ISPO ini adalah untuk kepantingan bangsa. Terkait standardisasi, dia menyatakan semua perusahaan yang ada di Indonesia patut tunduk dengan standardisasi yang telah ditentukan ISPO.
"Yang jelas kita mendeklarasi untuk kepentingan Indonesia, bahwa semua perusahaan yang bekerja di wilayah Indonesia tentu saja standardisasinya harus mengikuti standard Indonesia," jelasnya.
Standardisasi tersebut, tambah Suswono, tidak jauh berbeda dengan standard yang telah ditetapkan dalam RSPO, sehingga tidak ada alasan badan tersebut tidak diakui di dunia internasional.
"Sebetulnya dengan RSPO kita tidak ada perbedaan karena kita sama-sama concern terhadap lingkungan, kita juga ingin lingkungan kita lestari. Jadi tidak ada alasan tidak diakui di dunia internasional. saya kira China dan India sebagai importir terbesar mereka komitmen untuk mengimpor dari kita," tegasnya.
Suswono menyatakan pemerintah akan memberikan insentif untuk biofuel. "Jadi ini sebetulnya peluang untuk memgalihkan ke bahan bakar nabati. Jadi prospek lebih baik lagi ke depan," tandasnya.
Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) akan diwajibkan untuk seluruh pelaku industri sawit di Tanah Air. Rencananya, semua pelaku sawit termasuk industri sawit harus sudah memiliki sertifikasi ISPO paling lambat 2014.
(nia/hen)











































