Konsumsi bir di China, yang tahun lalu mencapai 450 juta hektoliter, hampir dua kali lipat lebih banyak dari konsumsi Amerika Serikat. Konsumsi ini diharapkan akan tumbuh 5% per tahun dalam lima tahun ke depan, lebih tinggi dari perkiraan para analis sebesar 2,5% per tahun.
Draft bir premium hanya menguasai 5% pasar di China secara keseluruhan, dibandingkan 50% di pasar yang masih berkembang seperti Perancis dan Jerman, dan 30% di AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Paul Sin, salah satu pedagang asal China di Hong Kong berumur 60 tahun, mengkonsumsi bir bukan hanya masalah rasa, tetapi lebih kepada kebanggaan dan nasionalisme.
"Kami sekarang bisa mencicipi bir enak yang diproduksi (negara) sendiri. Saya bisa merasakan citarasa sukses dalam pertumbuhan ekonomi sejalan dengan rasa bir kami," kata Sin sambil meminum Bir Tsingtao Draft di salah satu restoran di Hong Kong, dikutip dari Reuters, Senin (7/11/2011).
"Bir (produksi) kami sekarang bisa disandangkan sejajar dengan Heineken dan Blue Girl," tambahnya. Blue Girl adalah bir buatan Oriental Brewery Co Ltd, sebuah perusahaan asal Korea Selatan.
Para produsen bir lokal terus menggenjot produksi sejalan dengan pertumbuhan konsumsinya yang lebih tinggi dari bir impor. Pertumbuhan ini dibantu jaringan penjualan yang luas di seluruh dataran China serta ongkos yang lebih murah.
Hal ini bisa menjadi ancaman besar terhadap bir merek asing, seperti Anheuser Busch InBev SA, yang saat ini mendominasi segmen bir premium di China dengan pangsa pasar 45%.
Tsingtao Brewery Co Ltd asal Hong Kong adalah kompetitor terkuatnya dengan 15 % pangsa pasar, dibuntuti Heineken NV dan Carlsberg AS dengan pangsa pasar 7,5% dan 6,1%.
(ang/hen)










































