Hal ini untuk memastikan jika penghentian ekspor itu tetap bisa berdampak positif bagi kawasan lain di luar Cirebon khususnya sektor hulu. Sekaligus bisa memberikan jawaban soal kekhawatiran produksi rotan petani dalam negeri bisa diserap seluruhnya oleh industri olahan rotan lokal.
"Saya menginginkan bukan hanya peningkatan daya saing bukan hanya industrialisasi di Cirebon dan sekitarnya, tapi mungkin bisa dilakukan di Mamuju di Sulawesi, di Kalimantan, di Sumatera," katanya di kantor kementerian perdagangan, Jakarta, Rabu (9/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita lagi nunggu dari kehutanan, Kita lagi nunggu dari gubernur Sulawesi Barat tapi yang saya denger sedang di finalisasi tinggal ditunggu saja suratnya , begitu itu selesai akan kita keluarkan permendagnya," katanya.
Ia menegaskan pemerintah akan mengedepankan pada kebijakan yang membela pelaku sektor rotan hulu maupun hilir. Khususnya sektor hilir rotan di Cirebon beberapa tahun terkena imbas negatif.
"Saya itu bisa kelihatan bahwa banyak sekali yang dulunya mempekerjakan 1000 sampai 1.500 orang itu sekarang tinggal 50 orang, terus di kiri dan dikanannya juga sudah puluhan perusahaan atau pabik bangkrut, tentunya alasannya adalah kelangkaan atau ketidakadaan raw material atau bahan baku," katanya.
Gita pun menegaskan Indonesia negara satu-satunya tempat yang bisa membuahkan bahan baku rotan di dunia. Untuk itu pentingnya meningkatkan daya saing sektor hilir industri rotan.
"Ya mereka (gubernur) mendukung sikap kita untuk menyetop pengiriman rotan ke luar negeri untuk sementara, selama kita akan melakukan pembinaan dan apapun juga yang harus dilakukan untuk meningkatkan daya saing kawan pengrajin dan produsen rotan bisa meningkat," katanya.
(hen/dnl)










































