Wakil Ketua Bidang Pemasaran Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia (APMI) Sudarman Wijaya mengatakan pihaknya harus mengecek mainan impor jenis apa saja yang mengalami kenaikan. Namun kata dia, biasanya kenaikan impor mainan anak-anak adalah jenis mainan berbasis elektronik yang digemari anak-anak.
"Karena untuk mainan elektronik, kami anggap wajar seiring dengan perkembangan zaman dimana anak-anak zaman sekarang lebih mengutamakan permainan elektronik ketimbang mainan stuffed toys," kata Sudarman kepada detikFinance, Rabu (16/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Indonesia belum ada perusahaan pembuat mainan elektronik," katanya.
Seperti diketahui realisasi impor mainan anak-anak selama 10 bulan di 2011 mencapai US$ 60,237 juta. Angka itu sudah melonjak 30,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai US$ 46,08 juta.
Secara bulanan impor mainan anak-anak selama periode September-Oktober 2011 masih relatif tak signifikan. Masing-masing realisasi impor mencapai US$ 5,12 juta dan US$ 5,02 juta.
Impor mainan sempat turun tajam pada bulan Agustus 2011 yaitu hanya US$ 3,58 juta. Sementara bulan sebelumnya yaitu Juli 2011 sempat menembus angka tertinggi sebesar US$ 8,23 juta karena tingginya permintaan jelang Hari Raya.
Sejak awal tahun 2011 realisasi impor produk ini terjadi fluktuasi, misalnya Januari 2011 realisai impor mainan mencapai US$ 6,65 juta, bulan Februari 2011 US$ 4,9 juta, bulan Maret mengalami kenaikan US$ 5,2 juta, April sempat mengalami kenaikan US$ 6,4 juta kemudian selama dua bulan berturut-turut Mei-Juni mengalami lonjakan signifikan masing-masing US$ 7,71 juta dan US$ 7,34 juta.
(hen/dnl)











































