Salah satu yang dikeluhkan industri mamin adalah tingginya bunga bank lokal dalam memberikan pinjaman sehingga ekspansi para pengusaha terkendala.
Demikian disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gappmi) Franky Sibarani dalam keterangannya kepada detikFinance di Jakarta, Minggu (27/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan masalah pertama yakni bunga bank yang masih tinggi. "Investor-investor baru yang berbasis luar negeri akan mudah berinvestasi karena menggunakan dana sendiri atau perbankan dengan bunga murah. Sementara industri dalam negeri tergantung bunga bank lokal yang menyediakan bunga mahal," katanya.
Padahal, sambung Franky, apalagi untuk industri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dimana sekitar 1 juta industri mamin, 99,5%-nya adalah industri UMKM dan rumah tangga.
Masalah kedua yakni persediaan gas. Menurut Franky, kurangnya ketersediaan gas dan harga gas yang terus naik membuat industri mamin dalam negeri tidak efisien dan kalah bersaing dengan industri mamin malaysia. "Mengapa? karena yang mendapat kepastian gas (juga listrik) dengan harga yang lebih murah didapatkan Malaysia. Sementara, industri mamin di Jawa barat dan Jawa Timur mengalami masalah serius. Keluhannya, sudah harga naik, gas nya tidak ada (sangat terbatas)," jelas Franky.
Lebih jauh Ia mengatakan, adapula mengenai masalah Upah Minimum Regional (UMR) yang sekarang sedang hangat dibicarakan. Kemudian masalah pembangunan Infrastruktur yang lambat dan biaya logistik yang mahal.
"Ditambah masih banyaknya pungli-pungli di distribusi. Akibatnya, biaya produksi dan biaya distribusi mahal dan menyebabkan sekaligus melemahkan daya saing.
Menurut Franky pasar Industri mamin dalam negeri perlu mendapat perlindungan antara lain dengan cara penetapan wajib label berbahasa Indonesia yang menyatu dengan kemasan. "Serta larangan menggunakan stiker. Saat ini banyak produk impor resmi dan ilegal yg beredar tanpa ijin," kata Franky.
Selain itu diperlukan penguatan pengawasan di daerah perbatasan (antar negara), pelabuhan-pelabuhan resmi dan pelabuhan lain pun merupakan ancaman serius adalah import ilegal yang masih banyak di berbagai daerah perbatasan dan luar Jawa.
Bunga Bank Mencekik Masih Jadi Masalah Industri Mamin
(dru/dru)










































