Eksportir Tak Tertarik Bangun Industri Olahan Kopi

Eksportir Tak Tertarik Bangun Industri Olahan Kopi

- detikFinance
Selasa, 06 Des 2011 15:09 WIB
Eksportir Tak Tertarik Bangun Industri Olahan Kopi
Simalungun - Harga biji kopi yang terus naik membuat para eksportir sangat menikmatinya. Mereka pun lebih memilih menjadi pedagang daripada harus membangun pabrik olahan kopi di dalam negeri.

"Mengenai rencana pemerintah mengenai hilirisasi kami akan menghormatinya namun kami belum ada rencana untuk buat pabrik pengolahan kopi kita masih langsung bekerjasama dengan petani," kata Manager PT Indo Cafco Nick Watson di acara kunjungan lapangan IFC di petani kopi Simalungun, Selasa (6/12/2011)

Ia mengatakan saay ini Indo Cafco sudah 10 tahun ada di Indonesia, di mulai pada tahun 2001 di Lampung. Indo Cafco masuk ke Medan pada tahun 2004 dengan ekspor 1.000 ton per tahun sekarang 2011 sudah mencapai 6.000 ton /tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indo Cafco yang merupakan anak usaha ECom Agrindustrial Corporation tidak memiliki lahan sama sekali. Menurut Nick hal itu murni hubungan langsung dengan petani kopi sebagai mitra penyerap kopi petani. Meski tak mau membangun industri olahan, dalam jangka panjang pihakanya akan membangun Farmer Trade Center (FTC) di berbagai tempat di Sumatera Utara di luar Simalungun antara lain Selatan Danau Toba.

"Memang harga kopi sempat naik di semester dua tahun ini, pembeli memang kaget tapi tetap memilih arabica yang dari Sumut karena rasanya yang unik dan tidak bisa tergantikan dengan kopi kolombia," katanya.

Sementara itu Agribusiness Program Manager, IFC Indonesia Ernest Bethe mengatakan pihaknya selaku bagian dari World Bank memiliki komiten dalam program peningkatan bidang pertanian

"Mengenai pemberian pinjaman selama 5 tahun dan terhitung dari Juli 2011 IFC Global menyalurkan US$ 4 miliar untuk global dan US$ 1 miliar untuk sektor agri di asia pasific dan asia timur dan sebagian besar ke Indonesia untuk kopi, coklat, dan sawit," jelas Bethe.

Menurutnya pada tahun depan, meski ada krisis Eropa tidak akan memberikan efek bagi komitmen IFC. Dikatakannya program ini merupakan jangka panjang, mencakup peminjaman 7 sampai 10 tahun dan pendampingan teknis 3 sampai 5 tahun.

"Kita juga akan melakukan pengawasan keberlangsungan proyek FTC ini," tegasnya.
(hen/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads