"Dari data statistik diketahui bahwa pengaruh teknologi baru dan tuntutan efisiensi kerja menyebabkan daya serap perekonomian terhadap tenaga kerja mengalami penurunan sebesar 200.000 tenaga kerja pertahun per 1 persen pertumbuhan ekonomi," kata Ketua Umum Kadin Bambang Suryo Sulisto di kantor kementerian perindustrian, Rabu (14/12/2011).
Ia mengatakan selama ini lulusan pendidikan SMA dan perguruan tinggi terus bertambah, namun mereka tidak dapat diserap oleh industri yang berbasis teknologi tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau 9 juta pengangguran yang ada sekarang tidak mendapat kesempatan kerja, maka tujuan MP3EI (masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia) menuju PBD US$ 4,5 triliun dengan pendapatan perkapita sebesar US$ 15.000 jangan diharap akan dapat memakmurkan rakyat," katanya.
Sementara itu Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan pemerintah mengakui adanya kenyataan tersebut terutama di industri yang berbasis IT. Namun sikap pemerintah adalah akan memberikan insentif bagi industri yang padat karya atau menyerap banyak tenaga kerja.
"Ya untuk yang berteknologi tinggi seringkali tidak menyerap tenaga kerja yang banyak tetapi yang menjadi prioritas kita sekarangkan yang labour intensif itu yang kita beri tax incentive-kan. Tapi kan tidak bisa dicegah kalau investasinya di IT dimana tidak terlalu banyak menyerap tenaga kerja maksudnya itu," katanya.
Ia mengatakan secara nyata insentif yang diberikan adalah keringanan pajak dalam bentuk tax allowance. Sehingga pemerintah akan memfokuskan pada sektor industri yang menyerap tenaga kerja.
"Kalau labour intensif-nya saya galakkan dan juga investasi besar yang labour intensif termasuk pajak, pabrik-pabrik manufaktur yang lain saya kira pengurangan yang itu nggak perlu terjadi," katanya.
(hen/dnl)











































