Indonesia termasuk negara yang paling patuh oleh rambu-rambu organisasi perdagangan dunia (WTO) sementara negara maju justru sebaliknya rajin melakukan proteksi.
"Saya dan Pak Gita di sebut champion of protectionism. Memang selama ini kita bermain lugu dan memang produk kita sering kena aturan antidumping," kata Hidayat di kantornya, Jl Gatot Soebroto, Jumat (16/12/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Contohnya seperti tarif masuk hanya Indonesia dan Peru saja yang 6% kita sudah bermurah hati dan secara sukarela. Sedangkan India, China sampai 10-15%
Intinya kita masih berada di dalam tatanan yang di atur oleh WTO. Dan sekarang kita sedang memperjuangkan national interest kita. Termasuk untuk nge-banned," katanya
Hidayat menuturkan pemerintah terus fokus untuk meningkatkan pertumbuhan industri ditengah krisis global dan persaingan perdagangan global.
Menurutnya secara kumulatif,pertumbuhan industri pengolahan non migas sampai dengan triwulan III tahun 2011 adalah 6,49% jauh lebih tinggi dari pertumbuhan industri non migas sepanjang tahun 2010 yang hanya 5,09% dan merupakan pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2005.
Tercatat pertumbuhan tertinggi cabang industri non migas secara kumulatif hingga triwulan III tahun 2011 dicapai oleh industri logam dasar besi dan baja sebesar 15,03 % sementara 2010 hanya 2,56 %, industri tekstil,barang kulit dan alas kaki sebesar 8,63% sedangkan 2010 hanya 1,74%, industri makanan,minuman dan tembakau sebesar 7,29% sedangkan 2010 hanya 2,73% serta industri alat angkut,mesin dan peralatannya sebesar 7,01% sedangkan 2010 sempat mencapai 10,35%
Dikatakan Hidayat kinerja ekspor industri pengolahan non migas terus menunjukkan tren positif. Nilai ekspor periode hingga September 2011 mencapai US$ 91,8 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 33,4% dari periode yang sama tahun sebelumnya dibanding 2010 sebesar US$ 68,8 miliar.
(hen/hen)











































