Ia mengibaratkan hadirnya sosok hero Superman pun tidak akan membantu Indonesia untuk tak impor garam pada saat ini.
"Mau ada Superman atau mukjizat sekalipun, produksi garam nasional tetap belum bisa memenuhi kebutuhan garam dalam negeri, jadi mau tidak mau suka tidak suka ya kita harus impor garam untuk saat ini," kata Dahlan, di Kantornya, Jumat (16/12/11).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Walaupun katanya akan kita tingkatkan, tapi berapa sih, 20%, 30% atau 40%. Atau gini saja tingkatkan dua kali lipat kan masih 400 ribu ton tapi itu sulit, atau bahkan lebih tidak mungkin lagi tingkatkan 3 kali lipat, kan masih 600 ribu ton," ujar Dahlan.
Posisi sekarang ini dengan masih kekurangan produksi, maka impor menjadi salah satu jalan keluarnya. Apalagi menurutnya produksi garam Madura yang kualitas satu atau KW 1 sangat sedikit.
Masalah produksi garam saat ini masih terjadi silang sengkarut soal data pasti berapa volume produksi garam nasional di 2011. Pelaku garam dan pemerintah sama-sama memiliki data yang berbeda.
Misalnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan produksi garam hingga 8 November 2011 sudah mencapai 1,5 juta ton. Angka ini sudah di atas target tahun ini yang hanya 1,4 juta ton.
Angka itu jauh berbeda dari yang disampaikan oleh perusahaan BUMN yaitu PT Garam. Melalui Direktur Utama PT Garam Slamet Untung Irredenta mengatakan produksi garam hanya terealisasi 60% dengan jumlah 800.000 ton. PT Garam sudah menghentikan produksi garam sejak awal November 2011.
(hen/hen)











































