Lonjakan impor ini dipicu mahalnya harga kapas, namun selain itu ada dugaan negara pengekspor khususnya China melakukan dumping.
Dari total konsumsi serat tahun ini yang diestimasikan sebesar 1,33 juta ton, konsumsi serat polyester mencapai 593 ribu ton dan sebesar 128 ribu ton berasal dari impor atau naik sekitar 80% dari tahun sebelumnya. Sedangkan untuk benang filament volume impornya naik sekitar 24% atau sekitar 52 ribu ton dari total konsumsi 499 ribu ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan produksi serat dan benang polyester tahun ini tidak banyak berubah yaitu masing-masing sebesar 535 ribu ton dan 670 ribu ton, sedangkan volume ekspor serat hanya naik sebesar 4,4% dan volume ekspor benang filamen turun 3,8%.
Kondisi diatas secara signifikan telah menurunkan pangsa pasar volume penjualan industri dalam negeri serat polyester dari 87% ditahun 2010 menjadi 78%. Sedangkan untuk benang filament pangsa pasar industri dalam negeri dari 93% ditahun 2010 menjadi 89% ditahun 2011.
"Memang sudah diterapkan bea masuk anti dumping PSF namun tidak berlaku bagi 5 perusahaan China yang kita tuduh tahun lalu, sedangkan data yang kami dapat impor tahun ini masih didominasi dari China," katanya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (22/12/2011)
Redma menjelaskan bahwa biaya produksi di Indonesia dan di China tidak jauh berbeda, baik biaya energi maupun biaya tenaga kerja, yang membedakan adalah biaya bahan baku.
"Kita tidak impor PTA (bahan baku polyester) karena hampir 100% disuplai oleh industri dalam negeri, sedangkan industri di China 35% PTA-nya impor, jika ditambah dengan biaya transportasi plus bea masuk maka harga PTA yang mereka terima jadi lebih mahal, kalau mereka jual ke Indonesia dengan harga lebih murah setelah ditambah biaya transportasi kan aneh, pasti harganya harga dumping," jelas Redma.
Ia berharap industri polyester dalam negeri bisa meningkatkan pangsa pasarnya di dalam negeri.
"Konsumsi perkapita tahun depan diperkirakan bisa mencapai 6,5% sehingga secara total konsumsi masyarakat bisa naik 8%. Kondisi ini akan kembali meningkatkan konsumsi polyester di Industri pemintalan, pertenunan maupun perajutan sehiingga diharapkan konsumsi serat dan benang filament polyester tahun depan bisa mencapai masing-masing 620 dan 525 ribu ton," katanya.
Dengan adanya ekspansi yang dilakukan oleh Indorama maka tahun depan kapasitas produksi industri serat akan naik sekitar 8%, sedangkan untuk benang filament belum ada peningkatan kapasitas karena tingkat utilisasi masih 80%.
Ia mengatakan secara signifikan peningkatan kapasitas serat dan benang filament polyester akan terlihat ditahun 2013 hingg 2015 dimana beberapa anggota perusahaan APSyFI akan terus melakukan ekspansi.
(hen/ang)











































