Industri Rotan Butuh 5 Tahun untuk Pulih

Industri Rotan Butuh 5 Tahun untuk Pulih

- detikFinance
Selasa, 27 Des 2011 13:07 WIB
Industri Rotan Butuh 5 Tahun untuk Pulih
Jakarta - Kebijakan penutupan ekspor bahan baku rotan akan terasa dampak signifikan terhadap industri rotan butuh waktu tahunan. Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan (AMKRI) menargetkan total ekspor dan juga pasar dalam negeri mencapai US$ 400 juta dalam 5 tahun mendatang.

"Jadi total ekspor dan juga pasar dalam negeri mungkin bisa mencapai dalam waktu beberapa tahun ke depan harusnya bisa mencapai umpamanya Rp 4 triliun atau US$ 400 juta. Kami yakin bisa mencapai itu, kira-kira perlu waktu 5 tahun," kata Ketua Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan (AMKRI) Hatta Sinatra di kantor Kemenperin, Selasa (27/12/2011)

Sinatra mengatakan walaupun diharapkan ada pertumbuhan sebesar 20 persen tetapi diperlukan waktu untuk menyembuhkan industri rotan ini. Terpuruknya industri rotan dalam waktu yang lama membuat proses pemulihan perlu waktu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau kita tahun depan berharap ada suatu pertumbuhan 20 persen dari yang sekarang, kalau sampai akhir tahun ini kira-kira US$ 100 juta. Tahun depan bisa mencapai US$ 120 juta, dan seterusnya kita harapkan itu. Karena ini kan terlanjur industrinya sakit, perlu recovery, perlu waktu, nggak bisa sekonyong-konyong suruh lari nggak bisa. Tapi dengan tekad yang baik kita pasti mengarah kesitu," ujarnya

Ia yakin dengan adanya peningkatan nominal otomatis kuantitasnya juga akan bertambah. Disamping itu penguasaan teknologi juga tidak menjadi masalah.

"Untuk kuantitasnya ya otomatis. Dengan peningkatan nominal ya otomatis meningkatkan kuantitiasnya, ya sekitar 20% juga. Untuk teknologi dan desain itu nggak masalah. Kita menguasai teknologi secara penuh, apapun bisa kita lakukan tanpa kesulitan," katanya

Menurutnya Indonesia bisa merebut pasar China karena adanya larangan ekspor bahan mentah ini.

"Potensi pasar China potensinya luar biasa, tapi kita tidak bisa masuk karena mereka punya pabrik sendiri. Makanya dengan penyetopan ekspor bahan baku ini kita bisa ambil pasar dalam negeri dan pasar China Jadi China yang harus jadi target utama kita karena pasar terbesar adalah di sana," katanya.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads