Ini Penyebab Indonesia Selalu Impor Gula

Ini Penyebab Indonesia Selalu Impor Gula

- detikFinance
Jumat, 30 Des 2011 13:25 WIB
Ini Penyebab Indonesia Selalu Impor Gula
Jakarta - Indonesia selalu impor gula setiap tahun hingga ratusan ribu ton. Penyebabnya banyak hal, mulai dari masalah produksi, bahkan sampai ada pihak yang memang diuntungkan adanya impor tersebut.

Sebagai catatan awal tahun ini saja Indonesia telah mengimpor 450.000 ton gula kristal putih (GKP/konsumsi), itu diluar dari impor raw sugar untuk industri gula rafinasi (industri) sebanyak 2 juta ton lebih. Tahun depan ada perkiraan impor 300.000 ton gula GKP, walaupun akhirnya dikaji kembali untuk ditekan.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur mengatakan perlu ada sinkronisasi antara kepentingan pelaku usaha gula termasuk petani dengan pemerintah. Ia menilai saat ini dua kepentingan ini tak pernah menemui titik temu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Misalnya saja soal perhitungan kebutuhan gula konsumsi per bulan, kalau pemerintah menghitung 220.000 ton, sementara petani menghitung 170.000 ton per bulan, ya nggak akan pernah ketemu," katanya kepada detikFinance, Jumat (30/12/2011)

Ia mencontohkan stok gula akhir tahun ini diperkirakan mencapai 800.000 ton. Jika menghitung versi kebutuhan gula pemerintah maka stok itu tak akan cukup sampai Mei 2012 saat baru dimulainya musim giling tebu atau produksi gula lokal. Dengan demikian opsi impor paling gampang untuk dipilih oleh pemerintah.

Perhitungan ini tentunya berkebalikan dengan versi perhitungan petani maupun pedagang gula di dalam negeri.

"Makanya kita dari Kadin sudah sepakat agar saat ini rencana impor gula tahun depan distop dulu, tapi nanti pada Maret 2012 kita duduk bersama lagi," katanya.

Selain itu, Natsir tak menutup mata ada saja pihak-pihak yang diuntungkan dengan impor gula dan akan memperjuangkan mati-matian agar Indonesia tetap impor gula. Impor gula ini menurutnya tidak terlepas dari permainan importir dengan oknum birokrat yang berkaitan dengan soal rekomendasi hingga izin impor gula.

Natsir mencontohkan, usulan Kadin agar dilakukan survey atau perhitungan cermat terhadap konsumsi gula per bulan secara nasional selalu mendapat hambatan dari pihak tertentu. Padahal kata dia, jika masalah ini bisa diatasi setidaknya Indonesia memiliki perhitungan yang akurat soal konsumsi gula di dalam negeri.

"Tak bisa dipungkiri ada saja konspirasi untuk meng-goal-kan impor gula," katanya.

Sementara itu ia sangat menyambut positif mengenai adanya sikap kementerian perdagangan yang akhirnya memangkas kuota impor gula mentah (raw sugar) sebanyak 300.000 ton di 2012 terkait hasil audit rembesan gula rafinasi. Adanya pemangkasan itu diharapkan rembesan gula rafinasi ke pasar umum bisa ditekan, karena raw sugar merupakan bahan baku dari produksi gula rafinasi.

"Kalau memang pemerintah telah selesai mengeluarkan hasil audit, maka itu harus diumumkan secara terbuka," katanya.

Ia berharap tahun depan masalah tata niaga gula bisa lebih baik. Selama ini petani maupun pedagang gula eks produksi petani dirugikan dengan merembesnya gula rafinasi ke pasar umum, yang bahan bakunya 100% impor.

Natsir tetap optimis produksi gula dalam negeri tahun depan bisa mencapai 2,7 juta ton, meskipun tantangan cuaca dan gangguan produksi tetap mengancam.

"Mudah-mudahan ruang gerak gula rafinasi tahun depan bisa berkurang, gula kristal putih petani nggak terganggu lagi," katanya.

Natsir mendesak pemerintah agar memperketat pengawasan distribusi gula rafinasi, terutama di kawasan Timur Indonesia seperti Makassar yang langganan dari rembesan gula rafinasi ke pasar umum.


(hen/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads