Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua 1 Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Andre Vincent Wenas dalam keterangan tertulisnya, Rabu (4/1/2012)
Ia menambahkan berdasarkan analisa realisasi produksi nasional 2011 dari data dewan gula per Januari 2012, Pulau Sumatera dengan jumlah penduduknya 51 juta orang, dengan konsumsi per kapita 11,21 kg, maka kebutuhan gula per tahun 568.000 ton. Dengan total produksi gula kristal putih dari 10 pabrik gula yang di Sumatera sebesar 713.000 ton, maka untuk Pulau Sumatera masih ada surplus gula sekitar 146.000 ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu Kawasan Timur Indonesia seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara jumlah penduduknya 50 juta orang. Dengan konsumsi per kapita 11,21 kg, maka kebutuhannya adalah 565.000 ton gula per tahun.
Berdasarkan perhitungan 4 pabrik gula yang terletak di Sulawesi seperti Bone, Camming, Takalar dan Gorontalo, total produksi hanya 49.000 ton per tahun, maka di kawasan timur Indonesia ada defisit pasokan gula konsumsi sebesar 516.000 ton.
"Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana menjawab untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi di kawasan timur Indonesia yang de facto secara geografis memang membutuhkan biaya uang dan waktu tambahan logistik?" katanya.
Menurutnya dengan kondisi Indonesia yang negara kepulauan, saat ini masih mengalami ketidakseimbangan distribusi barang dan jasa, maka perlu juga dilakukan analisa produksi vs konsumsi secara geografis.
Saat ini tercatat dari total 62 pabrik gula, lokasinya terbagi 48 pabrik terletak di Pulau Jawa (77%), 10 pabrik yang terletak di Pulau Sumatera (16%), dan sisanya 4 pabrik terletak di Pulau Sulawesi (6%).
(hen/dnl)











































