Wakil Ketua 1 Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Andre Vincent Wenas mengatakan realisasi produksi gula nasional 2011 sebesar 2,1 juta ton sementara konsumsi langsung 2,7 juta ton yang mencakup dari 240 juta orang penduduk dikali konsumsi per kapita 11,21 kg. Sehingga defisit defisit gula nasional sebesar kira-kira 500.000-600.000 ton.
Menurutnya ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, antaralain:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Disinyalir oleh APTRI (Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia) ada lebih dari 400 ribu ton gula rafinasi selundupan masuk ke pasaran konsumsi langsung Indonesia. Kami kira sinyalemen ini tidaklah berlebihan dan masih masuk akal juga. Dengan menimbang kondisi defisitnya pasokan gula konsumsi yang - secara nasional sebesar 548.000 ton," katanya.
Meski cara yang paling mudah, namun dengan begini tentu negara akan sangat dirugikan. Antara lain dari sisi tata niaga gula dan dari aspek potensi pendapatan pajak negara yang tak bisa dipungut dari penyelundupan tersebut.
Kedua, adalah melakukan langkah sebaliknya yaitu dengan memberantas para penyelundup gula, dan memenuhi kebutuhan gula konsumsi nasional dengan memanfaatkan pabrik-pabrik gula rafinasi nasional yang kapasitasnya masih sangat cukup untuk membantu pemerintah mengamankan pasokan gula nasional.
"Dengan demikian juga membantu membereskan kemelut tata niaga pergulaan dan menambah pemasukan pajak. Selain itu juga menjaga laju inflasi di kawasan timur Indonesia," katanya.
Ketiga, yang harus dilakukan dalam jangka menengah dan panjang adalah memperbaiki produksi gula di dalam negeri, mulai aspek on-farm (perkebunan) dan off-farm (pabrik gula) yang dikelola BUMN/PTPN.
Berdasarkan data, produktivitas di sektor on-farm (perkebunan tebu) dan off-farm (pabrik gula) masih sangat rendah. Selama masa giling 2011 dari total luasan lahan tebu yang 426.000 hektar hanya bisa dipanen tebu sebanyak 28,5 juta ton, sehingga yield tebu/hektar hanya 66,9 ton/hektar dari standar rata-rata sekitar 75-80 ton/hektar.
Dengan produksi gula kristal putih sejumlah 2,1 juta ton maka rata-rata rendemen nasional di 2011 adalah 7,42 ton/hektar atau masih jauh di bawah standar rata-rata yang mesti di atas 8%.
"Bahkan di beberapa negara seperti Brasil, Thailand, dan Australia sudah di atas 10%. Ini tentu akibat kepemimpinan dan cara pengelolaan di PTPN gula yang tidak efektif dan tidak efisien," jelasnya.
(hen/dnl)











































