"Kita bisa buat itu, namun tergantung desainnya bagaimana, dari 74 perusahaan tabung elpiji 3 Kg, saya rasa yang bisa 30-40 perusahaan besar yang bisa buat," kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Tabung Baja (Asitab) Tjiptadi kepada detikFinance, Kamis (5/1/2012).
Ia menjelaskan sampai saat ini memang belum ada pembicaraan serius antara pihaknya dengan pemerintah terkait produksi tabung LGV di dalam negeri. Namun ia menegaskan industri dalam negeri sanggup membuat tabung tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dari sisi bentuk, yang paling mudah bentuknya memang bulat," katanya.
Namun ia mengaku sampai saat ini belum tahu persis seperti apa desain dari tabung LGV tersebut yang nantinya akan melengkapi alat converter kit di kendaraan bagian dari program konversi BBM ke Gas. Rencananya akan ada kebutuhan converter kit dan tabungnya sebanyak 2,5 juta unit.
Menurutnya memproduksi tabung LGV akan memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Ia mencontohkan untuk tabung elpiji 3 Kg hanya memiliki tekanan 7 bar sementara tabung LGV hingga 200 bar.
"Memang memiliki material yang beda, sampai saat ini SNI-nya masih belum jelas," katanya.
Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi sangat optimis kemampuan industri dalam negeri untuk memproduksi tabung LGV. Para pabrikan tabung elpiji (LPG) 3 Kg mempunyai kemampuan untuk memproduksi alat tersebut.
"Kalau saat ini kemampuan kita untuk membuat tabung LPG itu bisa untuk membuat tangki LGV (liquiefied gas vehicle), bukan CNG ya, LGV itu kira-kira 12 bar dan tabungnya lebih kecil,bisa diproduksi oleh pabrik LPG, klo CNG itu 200 bar, lebih besar," kata Budi.
(hen/dnl)











































