"Kita mengimpor sedikit. Tidak lebih dari 250.000 dari negara yang Eropa mungkin Italia atau semacam itu," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat, di Istana Negara, Jakarta, Kamis (5/1/2012)
Menurutnya impor itu hanya sebagai awal, sebelum industri di dalam negeri bisa membuat sendiri. Targetnya secara bertahap sambil disiapkan perangkat aturan dan menyiapkan sarana infrastruktur penggunaan BBB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya kesiapan pemerintah sangat penting dalam menyiapkan infrastruktur SPBG, alat converter kit dan tabung LGV dan lain-lain. "Kekhawatiran kita seperti suplai gas kontinyu atau tidak. Lalu apakah converter kit itu bisa disiapkan dengan mudah. Itu yang mesti kita lakukan," katanya.
Hidayat menuturkan satu-satunya industri di dalam negeri yang sudah mencoba membuat alat converter kit adalah PT Dirgantara Indonesia (DI). Perusahaan pembuat pesawat terbang itu sudah memproduksi 300 unit converter kit untuk tahap percobaan.
"Nantinya konversi ini awalnya semua angkutan dulu, baru setelah itu mobil pribadi," katanya.
Kebutuhan converter kit diperkirakan akan meningkat sejalan program pemerintah mengkonversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG). Untuk tahap awal program ini setidaknya dibutuhkan impor 250.000 converter kit gas dari total perkiraan kebutuhan 2,5 juta unit.
Pemerintah berencana menawarkan cicilan pembelian converter kit yang harganya Rp 15 juta kepada para pemilik mobil pribadi.Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, para pemilik mobil pribadi bisa menyicil pembelian converter kit ini dengan subsidi bunga. Kebijakan ini rencananya akan dilakukan seiring dengan pembatasan konsumsi BBM subsidi di April 2012.
(hen/ang)