Mantan Menteri Pertanian, Anton Apriyantono menyoroti kebijakan kementerian yang baru ditinggalkannya yakni dalam pengadaan daging impor.
"Kalau disyaratkan harus dari negara Australia dan New Zealand harga daging menjadi mahal, karena daging dari negara tersebut mahal," kata Anton di sela Dialog Pakar bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia, di Hotel Grand Hyatt, Selasa (10/1/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Industri pengolahan daging kita kalah, salah satunya sama Malaysia, kenapa? Karena Malaysia memperbolehkan impor daging dari mana saja, yang penting murah, kualitasnya bagus sesuai standar negaranya. Salah satunya yang dipilihnya daging dari India yang bagus dan murah," ungkapnya.
Masalahnya kata Anton, produk olahan daging dari Malaysia ini masuk ke Indonesia, harganya jauh lebih murah dan sudah bisa ditebak produk dalam negeri yang kalah bersaing.
"Sebenarnya boleh kita memproteksi petani kita, tapi harus sinkronisasi dengan industri. Harga daging lokal murah tapi produk akhirnya mahal inikan tidak masuk akal. Boleh kita lindungi petani, tapi pikirkan juga industri kita," ujarnya lagi.
Contoh lainnya kata Anton yang saat ini aktif di Komite Inovasi Nasional, soal gula. Harga gula dalam negeri termasuk paling mahal, karena proteksi terlalu besar terhadap petani.
"Namun disaat yang sama produk olahan gula dari China menyerbu, industri pengolahan produk gula kita yang kena. Jadi inikan ada yang tidak singkron khususnya dalam kebijakan impornya," tandas Anton.
(hen/hen)











































