"Jika diteruskan, kebijakan tersebut menghadap-hadapkan embrio mobil nasional seperti Kiat-Esemka, Gea, Tawon, dengan raksasa-raksasa industri otomotif dunia. Kebijakan itu akan memberikan insentif bagi produsen mobil besar anggota Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) untuk memproduksi mobil berkapasitas mesin antara 1000-1.200 cc," ujar Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Aria Bima, Selasa (17/1/2012).
Mobil berkapasitas mesin antara 1000-1.200 cc, berarti di bawah mobil Kiat-Esemka rakitan para siswa di Solo yang diharapkan masyarakat bisa menjadi embrio mobil nasional. Mobil Kiat-Esemka berkapasitas mesin 1.500 cc.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat menegaskan regulasi mobil murah akan segera diterbitkan. Aturan ini kini sudah masuk Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan dan tinggal menunggu persetujuan. Regulasi antara lain akan memberi insentif keringanan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM).
"Pemerintah seharusnya memprioritaskan regulasi yang memihak merek mobil nasional, sehingga bisa dijual murah dan tak kalah bersaing dengan mobil produksi Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) asing yang sudah menguasai hampir seratus persen pasar mobil Indonesia. Insentif seharusnya diberikan kepada industri mobil nasional yang masih lemah, bukan kepada raksasa industri mobil multinasional," lanjutnya.
Sementara itu Walikota Surakarta, Joko Widodo, tetap yakin mobil Esemka akan tetap bisa mendapatkan izin dan bisa diproduksi secara massal. Keyakinan itu didasarkan pada dukungan yang terus mengalir dari berbagai kalangan termasuk berbagai kementrian yang membidangi. Selain itu pemesanan pembuatan juga terus berdatangan.
"Kami akan terus membenahi produksi kami. Orang berpikirnya produk Esemka yang ada sekarang adalah karya baru yang tiba-tiba ada, padahal itu adalah produk penyempurnaan generasi
(mbr/hen)











































