Kenyataanya dengan stok gula saat ini, tak akan mencukupi kebutuhan gula konsumsi khususnya di wilayah Indonesia Timur apalagi saat ini 63% stok gula dikuasai pedagang.
Wakil Ketua 1 Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Andre Vincent Wenas mengatakan sesuai laporan DGI (dewan gula Indonesia), maka dari stok gula yang ada, sekitar 63% lebih telah dikuasai oleh pedagang, sekitar 32% masih milik pabrik gula, dan gula milik petani relatif sudah habis terjual atau hanya sekitar 4%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Milik petani 24.900 ton (4%)
- Milik pedagang 382.600 ton (63%)
- Milik pabrik 196.500 ton (33%)
Sikap AGRI ini terkait dengan Surat Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, tertanggal 17 Januari 2012, soal upaya mengamankan kebutuhan pasokan GKP untuk pasar konsumsi di kawasan timur Indonesia.
Yaitu rencana pemenuhan pasokan gula konsumsi di kawasan timur pada Januari-April 2012 sebanyak 300.000 ton. Pemerintah sangat percaya diri karena berdasarkan data stok gula per 12 Januari 2012 yang ada di BUMN/PTPN Gula ada sekitar 340.000 ton alias cukup untuk kawasan Indonesia timur.
"Jumlah stok yang ada tidak lah bakal mencukupi kebutuhan di KTI, karena stok gula yang ada pastilah diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan di Pulau Jawa yang dalam 4 bulan ke depan bakal butuh sekitar, 510.000 ton," katanya.
Ia menuturkan pasokan gula konsumsi di kawasan Indonesia timur sedang mengalami defisit yang parah. Hal ini dibuktikan dengan merembesnya gula rafinasi ke pasar konsumsi kawasan timur.
"Disarankan agar pemerintah segera memanfaatan aset nasional yang ada, yaitu fasilitas pabrik-pabrik gula rafinasi yang ada untuk membantu mengamankan posisi stok gula nasional. Sehingga kontinuitas pasokan dapat terjamin dan stabilitas harga juga terjaga dan tidak menimbulkan gejolak inflasi di daerah-daerah KTI," katanya.
(hen/dnl)











































