"Saya tidak akan melarang impor gula, beras bahkan garam sekali pun, selama kebutuhannya belum bisa dipasok di dalam negeri," kata di kantornya Jl Ridwan Rais, Jakarta, Rabu (1/2/2012).
Gita mempertanyakan, bisa kah petani Indonesia mampu mencukupi seluruh kebutuhan besar gula nasional? Bahkan menutup kebutuhan impor 400-500.000 Kg "Kalau pasokan sebesar itu belum bisa dipenuhi, lantas dari mana pasokannya," ujar Gita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lantas Maret dan seterusanya sampai masa panen raya garam kembali pada Agustus (2012), pasokannya garam konsumsinya dari mana?," ujar Gita.
Data impor Badan Pusat Statistik (BPS)menunjukkan selama November 2011, Indonesia masih kedatangan garam impor sebanyak 216,3 ribu ton dengan nilai US$ 10,9 juta. Dengan demikian, sepanjang Januari-November 2011, jumlah impor garam yang telah dilakukan oleh Indonesia mencapai 2,7 juta ton atau US$ 140,5 juta setara dengan Rp 1,2 triliun.
Imbau Kurangi Konsumsi Beras & Gula
Produksi beras dan gula nasional selama ini belum aman untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengimbau agar konsumsi beras dan gula masyarakat dikurangi, selain sehat juga bisa mengurangi impor beras dan gula.
"Dalam catatan WHO, Indonesia penyumbang penderita diabetes nomer 4 di dunia. Ini karena konsumsi gula dan beras kita sangat tinggi," katanya.
Gita membayangkan, jika setiap orang dari 240 juta jiwa penduduk Indonesia bisa mengurangi konsumsinya terhadap gula dan beras saja, pertama Indonesia penderita diabetes akan berkurang, pasokan beras impor bisa berkurang.
"Seperti saya saat ini, sejak menjabat Mendag, saya tidak pernah lagi makan nasi pada malam hari, pagi saya makan singkong dan siang sebisa mungkin di mix dengan beras merah. Sampai sekarang berat saya turun 8 kg, tapi saya tidak kepalaparan, tapi merasa lebih sehat," tukasnya.
(hen/hen)











































